RAGAM
Pemanasan Global Picu Migrasi Ular Berbisa ke Wilayah Padat
AKTUALITAS.ID – Pemanasan global kini tak hanya berdampak pada cuaca ekstrem, tetapi juga memicu ancaman biologis yang semakin dekat dengan kehidupan manusia. Studi terbaru yang dipimpin oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkap risiko gigitan ular berbisa diperkirakan meningkat signifikan dalam beberapa dekade mendatang akibat perubahan iklim global.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kenaikan suhu bumi mendorong sejumlah spesies ular berbisa berpindah habitat, memperluas wilayah jelajah, dan semakin sering bersinggungan dengan aktivitas manusia.
Beberapa spesies yang disebut mengalami pergeseran habitat antara lain kobra penyembur di Afrika, viper di Eropa dan Amerika Selatan, cottonmouth moccasin di Amerika Utara, hingga ular krait di Asia.
Salah satu peneliti, David Williams, menyebut bahwa perubahan ini akan membuat batas antara habitat manusia dan ular semakin kabur.
“Wilayah tumpang tindih antara manusia dan ular berbisa akan menjadi lebih besar,” ujarnya, dikutip dari Guardian, Sabtu (23/5/2026).
Ia bahkan menggambarkan potensi risiko tersebut bisa terjadi dalam aktivitas harian yang paling sederhana.
“Bayangkan seseorang keluar dari pintu belakang rumah, tersandung, lalu digigit ular,” katanya.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal PLOS Neglected Tropical Diseases itu mencatat sekitar 4 juta kasus gigitan ular terjadi setiap tahun di seluruh dunia, dengan konsentrasi terbesar di wilayah tropis.
Dari jumlah tersebut, sekitar 138 ribu orang meninggal dunia dan 400 ribu lainnya mengalami cacat permanen. Hampir separuh kematian terjadi di Asia Selatan.
Penelitian ini juga memetakan 508 spesies ular berbisa di seluruh dunia hingga skala detail 1 kilometer persegi, serta memproyeksikan perubahan distribusi hingga tahun 2050–2090.
Hasilnya menunjukkan sebagian spesies justru kehilangan habitat akibat suhu ekstrem dan alih fungsi lahan, sementara sebagian lainnya bergerak mendekati kawasan permukiman manusia.
Contohnya, ular cottonmouth moccasin di Amerika Serikat diperkirakan bergerak ke utara hingga wilayah New York, sementara ular krait di Asia diprediksi bermigrasi dari Myanmar dan Yunnan menuju wilayah padat penduduk di China bagian tengah dan utara.
Di India, yang mencatat sekitar 60 ribu kematian per tahun akibat gigitan ular, spesies mematikan seperti kobra India, Russell’s viper, dan krait juga diperkirakan bergeser ke wilayah utara yang lebih padat penduduk.
David Williams menegaskan bahwa dalam 50 tahun ke depan, spesies ular akan muncul di wilayah yang sebelumnya tidak pernah menjadi habitat mereka.
“Artinya, mereka akan berinteraksi dengan masyarakat yang belum terbiasa menghadapi ancaman ini,” ujarnya.
Para peneliti memperingatkan bahwa risiko terbesar akan terjadi di wilayah miskin dan terpencil, di mana akses terhadap layanan kesehatan dan antibisa masih terbatas, serta banyak aktivitas pertanian dilakukan tanpa perlindungan alas kaki.
Sebaliknya, negara maju seperti Australia disebut memiliki angka kematian rendah berkat perlindungan kerja, mekanisasi pertanian, dan akses cepat terhadap fasilitas medis.
Para ilmuwan berharap temuan ini dapat menjadi dasar kebijakan mitigasi, termasuk penentuan distribusi antibisa, penguatan layanan kesehatan di daerah rawan, serta pemetaan wilayah risiko tinggi akibat pergeseran habitat satwa berbisa tersebut. (Irawan/Mun)
-
FOTO24/05/2026 06:13 WIBFOTO: Turnamen Futsal Piala Fortami Cup XI 2026
-
POLITIK24/05/2026 14:00 WIBGerindra: Prabowo Utamakan Persatuan di Atas Rivalitas Politik
-
RIAU24/05/2026 10:30 WIBTim RAGA Polda Riau Jaga Kamtibmas
-
OASE24/05/2026 05:00 WIBAl-Qur’an Bongkar Fakta Mengerikan Saat Sakaratul Maut
-
DUNIA23/05/2026 21:00 WIBDukungan Sektor Kesehatan untuk Palestina WHO Sahkan Dua Resolusi
-
DUNIA23/05/2026 18:00 WIBRumah Sakit di Lebanon Selatan Rusak Parah Usai Diserang Israel
-
NASIONAL24/05/2026 07:00 WIBMenko AHY Desak PLN Usut Blackout Sumatra
-
JABODETABEK24/05/2026 09:30 WIBMayat Wanita di Tanah Sareal Gegerkan Warga Bogor

















