Connect with us

DUNIA

Trump Sebut Paris Bakal Jadi Kota Muslim

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan pernyataan kontroversial di tengah gelombang demonstrasi dan kerusuhan yang mengguncang Prancis. Trump bahkan menyebut Paris akan segera menjadi “Kota Muslim” dan menuding Presiden Prancis Emmanuel Macron telah melakukan kesalahan besar dalam kebijakan imigrasi.

Pernyataan itu muncul setelah Macron sebelumnya mengkritik kebijakan luar negeri Washington terkait konflik Amerika Serikat dan Iran yang disebut turut memicu lonjakan harga energi serta memperburuk inflasi global.

Tak terima disalahkan, Trump justru balik menyerang Macron. Menurutnya, akar persoalan yang kini dihadapi Prancis bukan hanya ekonomi, tetapi juga kebijakan perbatasan yang dianggap terlalu longgar.

“Saya sudah bilang sejak lama, Anda membuat kesalahan besar di Prancis. Anda membiarkan semua orang dari seluruh dunia masuk,” kata Trump dalam wawancara yang dikutip media AS.

BACA JUGA  Kemenangan Trump Diprediksi Beri Angin Segar bagi Sektor Tambang & Migas

Trump kemudian mengklaim bahwa dirinya telah berulang kali mengingatkan Macron untuk memperketat pengawasan perbatasan dan membatasi arus migrasi ke Prancis.

Pernyataan paling kontroversial muncul ketika Trump menyebut Paris akan segera berubah menjadi “Kota Muslim”. Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut, menurut pandangannya, merupakan konsekuensi dari kebijakan migrasi yang dijalankan pemerintah Prancis selama bertahun-tahun.

Tak hanya lewat wawancara, Trump juga kembali mengulang kritiknya melalui platform media sosial Truth Social. Dalam unggahannya, ia menyalahkan migran atas situasi yang sedang melanda Prancis dan mendesak pemerintah setempat segera menutup perbatasan.

Komentar keras Trump muncul ketika Prancis tengah berjuang mengendalikan demonstrasi besar yang awalnya dipicu tuntutan pelajar mengenai kualitas pendidikan, kekurangan tenaga pengajar, dan kondisi sekolah.

BACA JUGA  Trump Klaim Vaksin Covid-19 untuk Masyarkat AS Tersedia April 2021

Namun seiring berjalannya waktu, gelombang protes berkembang menjadi aksi yang lebih luas. Isu biaya hidup yang melambung, tekanan ekonomi, hingga ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah ikut menjadi bahan bakar kemarahan publik.

Ribuan warga turun ke jalan di berbagai kota. Sebagian besar aksi berlangsung damai, tetapi situasi berubah setelah kelompok tertentu diduga melakukan pembakaran, penjarahan, dan vandalisme terhadap fasilitas publik maupun properti swasta.

Federasi Perdagangan dan Ritel Prancis melaporkan hampir 3.000 toko terdampak kerusuhan. Aksi perusakan dan penjarahan terjadi di sejumlah kota besar, termasuk Paris dan Marseille.

Di tengah situasi yang memanas, Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu menegaskan pemerintah akan bertindak tegas untuk memulihkan keamanan. Ia mendorong pemerintah daerah memberlakukan jam malam secara terbatas, meski menolak menerapkannya di ibu kota Paris.

BACA JUGA  Trump Perintahkan Militer AS Hancurkan Kapal Iran yang Mengusik

Lecornu juga menuding kelompok ultra-kiri memanfaatkan momentum demonstrasi untuk menciptakan kekacauan menjelang pemilihan presiden. Tuduhan itu langsung ditolak tokoh oposisi sayap kiri Jean-Luc Melenchon yang meminta pemerintah berhenti memperkeruh suasana.

Perang pernyataan antara para elite politik terjadi saat aparat keamanan masih berupaya mengendalikan situasi di lapangan. Sementara itu, komentar Trump berpotensi memicu perdebatan baru mengenai isu imigrasi, integrasi sosial, dan masa depan politik Prancis di tengah salah satu gelombang protes terbesar dalam beberapa tahun terakhir. (Mun)

TRENDING