Berita
Kisah Orang yang Meninggikan Suara di Depan Nabi Muhammad
Intonasi suara sering kali memiliki makna tersendiri dibandingkan ucapan. Etika umumnya, seseorang akan menggunakan intonasi yang pelan ketika berbicara dengan orang yang lebih dimuliakan, seperti pemimpin atau ulama. Orang-orang cenderung “bebas” memakai intonasi suara saat bercengkerama dengan kawan sebayanya. Persoalan intonasi suara juga disinggung dalam Alquran, yakni surah al-Hujuraat ayat 2. Asbabun nuzul ayat itu […]
Intonasi suara sering kali memiliki makna tersendiri dibandingkan ucapan. Etika umumnya, seseorang akan menggunakan intonasi yang pelan ketika berbicara dengan orang yang lebih dimuliakan, seperti pemimpin atau ulama. Orang-orang cenderung “bebas” memakai intonasi suara saat bercengkerama dengan kawan sebayanya.
Persoalan intonasi suara juga disinggung dalam Alquran, yakni surah al-Hujuraat ayat 2. Asbabun nuzul ayat itu sehubungan dengan adanya orang yang menggunakan intonasi suara keras bahkan saat berbicara dengan Rasulullah SAW.
Arti ayat itu: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain, nanti (pahala) segala amalmu bisa terhapus sedangkan kamu tidak menyadari.”
Seperti diriwayatkan Ibnu Jarir dari Qatadah, diceritakan sebagai berikut. Di antara para sahabat Nabi SAW, ada yang mengeraskan suara saat berbicara dengan Rasulullah SAW.
Allah SWT lalu menurunkan ayat ini (QS al-Hujuraat ayat 2).
Suatu hari, Tsabit bin Qais tampak duduk di tengah jalan. Ia tampak lemah, bahkan terisak-isak dan menangis. Tidak lama berselang, Ashim bin Uday bin Ajlan lewat di hadapannya. Ashim lalu bertanya,
“Mengapa engkau menangis?”
Tsabit menjawab, “Karena ayat ini (al-Hujuraat ayat 2 -Red). Saya sangat takut jika ayat ini turun berkenaan dengan saya. Sebab, saya adalah orang yang bersuara keras saat berbicara.”
Ashim lantas melaporkan kejadian itu kepada Rasulullah SAW. Tak lama kemudian, beliau memanggil Tsabit.”Wahai Tsabit, apakah engkau sudi hidup dalam kemuliaan dan nantinya meninggal dalam keadaan syahid?”
Segera saja Tsabit menjawab, “Ya, Rasulullah, saya senang dengan kabar gembira yang saya terima dari Allah dan Rasul-Nya ini. Saya berjanji tidak akan pernah lagi berbicara lebih keras dari suara engkau.”
Maka turunlah wahyu dari Allah, yakni surah al-Hujuraat ayat 3. Artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hatinya oleh Allah untuk bertakwa. Mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.”
-
RAGAM19/04/2026 15:30 WIBDiabetes Bisa Dikendalikan dengan Pola Hidup Sehat
-
DUNIA19/04/2026 15:00 WIBTrump Ancam Rebut Paksa Uranium Iran Jika Negosiasi Gagal
-
PAPUA TENGAH19/04/2026 20:00 WIBEvakuasi dan Pelayanan Kesehatan Warga Korban Pembakaran Honai Oleh KKB
-
NASIONAL19/04/2026 17:30 WIBLima Pengedar Dolar AS Palsu Ditangkap Bareskrim
-
EKBIS19/04/2026 17:00 WIBHarga LPG 12 Kg Naik Jadi Rp228 Ribu, LPG 5,5 Kg Jadi Rp110 Ribu Per Tabung
-
JABODETABEK19/04/2026 19:30 WIBSerah Terima Kawal Istana Jadi Atraksi Wajib di CFD
-
RAGAM19/04/2026 16:30 WIBTampilkan 1.000 Penari, TMII Pecahkan Rekor Muri
-
PAPUA TENGAH19/04/2026 16:00 WIBIntervensi Lintas Sektor Jadi Kunci Penanganan Konflik di Kwamki Narama