Berita
Rusia Anggap AS Tak Banyak Berubah Ditangan Joe Biden
Rusia menganggap hubungan bilateral dengan salah satu musuhnya, Amerika Serikat, tidak akan banyak berubah di tangan presiden terpilih, Joe Biden. Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva mengatakan hal itu bisa terlihat dari hubungan Kremlin dan Gedung Putih selama empat tahun terakhir di tangan Presiden Donald Trump. “Kami bersikap realistis saja dalam melihat prospek interaksi […]
Rusia menganggap hubungan bilateral dengan salah satu musuhnya, Amerika Serikat, tidak akan banyak berubah di tangan presiden terpilih, Joe Biden.
Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva mengatakan hal itu bisa terlihat dari hubungan Kremlin dan Gedung Putih selama empat tahun terakhir di tangan Presiden Donald Trump.
“Kami bersikap realistis saja dalam melihat prospek interaksi kedua negara berdasarkan situasi saat ini. Kebijakan AS saat ini (di tangan Trump) secara terbuka anti-Rusia. Sebagai contoh, AS semakin banyak menjatuhkan sanksi kepada kami dan berbagai langkah tidak ramah lainnya,” ujar Vorobieva dalam jumpa pers virtual di Jakarta pada Rabu (11/11).
Kekecewaan itu diutarakan Vorobieva meski selama ini banyak pihak banyak yang menganggap pemerintahan Trump bersikap jauh lebih ramah kepada Rusia dibandingkan para pendahulunya.
Selama ini, Kremlin bahkan disebut-sebut mengintervensi pemilihan umum AS 2016 lalu demi membantu Trump menang.
“Tentunya kami selalu berharap bahwa hubungan AS-Rusia akan berkembang terus secara positif siapa pun presidennya. Tapi itu tidak terlihat selama empat tahun terakhir,” kata Vorobieva.
“Langkah tidak ramah lainnya juga ditunjukkan AS kepada Rusia. Contohnya AS berupaya meningkatkan sanksi untuk menghalangi proyek pipa gas Nord Stream 2 dan tuduhan bodoh lainnya seperti tudingan bahwa Rusia mencoba menggunakan senjata kimia untuk meracuni aktivis blogger Alexei Navalny,” ucap dia.
Selain itu, Vorobieva juga menyinggung kebijakan politik dan militer AS lainnya yang bersifat destruktif terhadap relasi Moskow-Washington selama empat tahun terakhir.
Salah satunya soal NATO Ballistic Missile Defense (BMD) dan juga polemik traktat senjata nuklir antara Rusia-AS yang tertuang dalam Strategic Arms Reduction Treaty (START).
Menurutnya, itu semua tentu mempengaruhi stabilitas keamanan dan strategis di dunia.
“Namun terlepas dari itu semua, saya ingin menekankan bahwa Rusia terbuka untuk dialog dengan pemerintahan AS yang baru siapa pun presidennya entah itu Biden atau Trump. Kami siap untuk bekerja sama dengan AS,” kata Vorobieva.
Sampai saat ini, Presiden Rusia Vladimir Putin merupakan salah satu dari sedikit kepala negara yang masih belum memberi selamat kepada Biden atas kemenangannya dalam pemilu AS pada 3 November lalu.
Vorobieva mengatakan hal itu disebabkan Rusia ingin menunggu hasil resmi pemilu AS sebelum mengeluarkan ucapan selamat.
“Presiden kami belum mengirimkan ucapan selamat karena Menlu Rusia mengatakan akan lebih baik menunggu hasil pemilu AS resmi keluar. Banyak prosedur yang masih harus dilakukan sebelum hasil pemilu AS diumumkan secara resmi,” ujarnya.
Seperti diketahui, Trump masih berusaha menempuh jalur hukum untuk menggugat hasil pemilu AS yang dinilainya curang.
Trump dan timnya menuduh terjadi kecurangan di Pennsylvania dan sejumlah negara bagian lain yang memenangkan perolehan suara Biden. Namun, klaim tersebut dilontarkan tanpa bukti.
-
NASIONAL07/07/2026 07:00 WIBHeboh! Anak Menteri PU Masuk Rombongan Kunker ke New York
-
NASIONAL07/07/2026 13:00 WIBFernando Emas Desak Dody Hanggodo Minta Maaf
-
JABODETABEK07/07/2026 05:30 WIBBMKG Ungkap Kondisi Cuaca Jakarta 7 Juli 2026
-
JABODETABEK07/07/2026 06:30 WIBSIM Keliling Jakarta Hadir di 5 Lokasi
-
RAGAM07/07/2026 14:30 WIBErupsi Anak Krakatau Hantam Wisata Selat Sunda
-
OASE07/07/2026 05:00 WIBAl-Qur’an Bahas Perjuangan Ibu Melahirkan
-
NASIONAL07/07/2026 14:47 WIBKejari Jabar Diminta Usut Dugaan Penyalahgunaan Anggaran Helikopter oleh KPU
-
NASIONAL07/07/2026 16:00 WIBRUU Keaman Siber Beri Peran Penyidikan bagi TNI, Ini Kata Komisi I