Berita
Menyamar Jadi Wartawan, Inggris Usir Tiga Intel China
Inggris dilaporkan mengusir tiga mata-mata China yang tinggal dengan menggunakan visa jurnalis selama 2020 lalu. Hal itu dipaparkan koran The Telegraph pada Kamis (4/2). Dikutip Reuters, sumber pemerintah Inggris mengatakan kepada The Telegraph bahwa tiga staf intelijen Kementerian Keamanan Negara China itu selama ini ditempatkan bekerja pada tiga kantor media Tiongkok yang berbeda. “Identitas asli […]
Inggris dilaporkan mengusir tiga mata-mata China yang tinggal dengan menggunakan visa jurnalis selama 2020 lalu.
Hal itu dipaparkan koran The Telegraph pada Kamis (4/2).
Dikutip Reuters, sumber pemerintah Inggris mengatakan kepada The Telegraph bahwa tiga staf intelijen Kementerian Keamanan Negara China itu selama ini ditempatkan bekerja pada tiga kantor media Tiongkok yang berbeda.
“Identitas asli mereka terungkap oleh MI5 dan mereka telah kembali ke China,” kata laporan itu.
Laporan The Telegraph ini muncul bertepatan dengan langkah Lembaga Pengatur Penyiaran Inggris (Ofcom) mencabut izin siaran stasiun televisi pemerintah,China Global Television Network (CGTN), karena melanggar aturan.
Ofcom menyatakan yang menjadi duduk perkara adalah tanggung jawab editorial redaksi CGTN dikendalikan penuh oleh Partai Komunis China, dan bukan oleh pemegang izin yakni Star China Media Limited.
Kebijakan yang diterapkan CGTN itu dinilai melanggar aturan penyiaran media massa di Inggris.
Akibat pencabutan izin itu, Inggris akan menghapus saluran penyiaran CGTN secepatnya. Namun, Ofcom menyatakan CGTN bisa meminta banding atas keputusan itu dan boleh mengajukan permohonan izin siaran di kemudian hari.
Dilansir CNN, CGTN adalah stasiun televisi China yang disiarkan khusus dalam bahasa Inggris. Mulanya mereka bernamaCCTV Newsyang kemudian diubah pada 2016.
Mereka mempunyai kantor pusat di Beijing, dan tiga biro internasional yang berada di Nairobi, Kenya, Washington D.C., Amerika Serikat dan London.
Pada 2019, Kementerian Hukum Amerika Serikat menggolongkanCGTNsebagai agen pemerintah asing dan bukan media massa.
Di masa pemerintahan Presiden AS Donald Trump,CGTNdan empat perusahaan media massa China dianggap sebagai perpanjangan tangan pemerintah China, dan mewajibkan mereka mematuhi peraturan yang diberlakukan bagi perwakilan diplomatik negara asing dalam tingkat kedutaan besar atau konsulat.
-
JABODETABEK27/02/2026 19:30 WIBKejati DKI Geledah Office 88 Kokas Terkait Korupsi PLTU Suralaya
-
JABODETABEK27/02/2026 16:30 WIBHujan Pagi, Tinggi Muka Air Jakarta Terpantau Stabil
-
PAPUA TENGAH27/02/2026 20:45 WIBBupati Mimika dan Kapolda Papua Tengah Tinjau Tapal Batas via Udara
-
PAPUA TENGAH27/02/2026 21:43 WIBAnanias Faot Resmi Nahkodai Perbakin Mimika, Target Cetak Atlet Nasional
-
DUNIA27/02/2026 19:00 WIBSerangan Udara Pakistan Guncang Ibu Kota Afghanistan
-
NUSANTARA27/02/2026 17:30 WIBKeracunan Massal MBG, 45 Anak di Bireuen Dirawat
-
POLITIK27/02/2026 18:00 WIBPDIP Pastikan Kader Tak Boleh Terlibat Bisnis MBG
-
OTOTEK27/02/2026 18:30 WIBGalaxy S26 Ultra Dijual Rp32 Juta di Indonesia

















