DUNIA
Tragedi Bantuan Berdarah di Gaza: 27 Warga Tewas Ditembak Saat Antri Makanan
AKTUALITAS.ID – Gaza kembali memerah oleh darah warganya sendiri. Bukan karena perang terbuka, tapi karena mereka hanya ingin makan.
Selasa pagi (4/6/2025), 27 warga Palestina tewas saat sedang mengantri bantuan pangan di Rafah, Gaza bagian selatan. Penembakan terjadi saat ratusan orang mendatangi lokasi distribusi bantuan yang disebut-sebut berada dalam “zona militer tertutup” milik Israel. Aksi ini menambah daftar panjang tragedi kemanusiaan di Gaza hanya dalam sepekan, 102 warga telah terbunuh dalam insiden serupa.
Menurut saksi mata dan pejabat kesehatan Palestina, tentara Israel melepaskan tembakan ke arah kerumunan. Mereka adalah orang-orang kelaparan, sebagian besar pengungsi, yang hanya ingin bertahan hidup. Beberapa korban tewas saat berusaha melarikan diri, lainnya tewas saat membawa karung tepung.
“Hari ini adalah jumlah pasien luka tertinggi yang kami terima dalam satu kejadian sejak rumah sakit lapangan berdiri,” ungkap Komite Palang Merah Internasional dalam pernyataan resmi.
Rumah sakit lapangan Palang Merah mencatat 184 orang terluka, dengan 27 di antaranya meninggal, termasuk tiga anak dan dua wanita. Korban luka sebagian besar mengalami tembakan langsung di kepala, dada, dan lengan.
Tragedi ini terjadi tak jauh dari lokasi distribusi bantuan yang dikelola oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF), organisasi bantuan yang didukung oleh AS dan Israel. Ironisnya, alih-alih menjadi tempat penyelamat, area itu kini menjadi perangkap maut.
PBB menolak sistem distribusi bantuan versi GHF, menyebutnya tidak memadai dan justru membuka celah penggunaan bantuan sebagai senjata politik dan militer.
“Warga Palestina dihadapkan pada pilihan yang mustahil: mati kelaparan atau mati ditembak saat mencari makanan,” ujar Volker Türk, Komisaris Tinggi HAM PBB.
Israel berdalih bahwa penembakan dilakukan sebagai “peringatan” terhadap warga yang melintasi koridor aman. Namun, saksi mata mengatakan penembakan datang dari segala arah, tanpa aba-aba, dan tidak pandang bulu.
“Saya lihat belasan syuhada. Bantuan sudah habis. Saya pungut sisa pasta dari tanah,” kata Rasha al-Nahal, seorang warga Khan Younis. “Kematian lebih bermartabat dari pada hidup begini.”
Pihak Hamas menuduh sistem distribusi bantuan GHF sebagai bagian dari strategi untuk mengosongkan Gaza melalui kelaparan dan pengusiran paksa. Mereka menyebutnya “mekanisme pembunuhan yang dilegalkan.”
Sementara itu, Gedung Putih mengaku “mengevaluasi laporan” terkait penembakan tersebut namun tetap menunjukkan dukungan terhadap skema GHF. Pernyataan ini memicu reaksi keras dari organisasi kemanusiaan dan aktivis HAM global.
Gaza kini bukan hanya medan perang senjata, tapi juga perang atas martabat manusia. Saat dunia menonton, satu demi satu warganya jatuh bukan karena melawan, tapi karena lapar. (Mun)
-
PAPUA TENGAH20/05/2026 16:00 WIBIni 4 Tim yang akan berlaga di Semifinal Kapolda Cup II Besok
-
NASIONAL20/05/2026 14:00 WIBBudi Utomo Jadi Titik Awal Kebangkitan Nasional Indonesia
-
NASIONAL20/05/2026 13:00 WIBKemendikdasmen Tegaskan Tidak Ada Larangan Guru Honorer Mengajar
-
EKBIS20/05/2026 10:30 WIBRupiah Hancur Lepas Rp17.700 di Hari Kebangkitan Nasional
-
NASIONAL20/05/2026 17:00 WIBTio Aliansyah Dilaporkan ke DKPP usai Diduga Ikut Helikopter Bersama Anggota KPU RI
-
NUSANTARA20/05/2026 06:30 WIBNenek 79 Tahun Meregang Nyawa Usai Dianiaya di Rumah Elite Bandung
-
NUSANTARA20/05/2026 12:30 WIBPelaku Pelecehan Santri NTB Ternyata Pernah Disodomi
-
OASE20/05/2026 13:30 WIBWukuf Arafah 2026 Jatuh 26 Mei

















