Connect with us

DUNIA

Negara Teluk: Kami Tanggung Akibat Perang Trump

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Gelombang kemarahan dan frustrasi mendalam kini melanda negara-negara Teluk. Ketegangan memuncak seiring kegagalan Presiden AS Donald Trump dalam mencapai penyelesaian diplomatik atas konflik bersenjata yang berlarut-larut dengan Iran.

Negara-negara sekutu di kawasan Timur Tengah tersebut merasa ditumbalkan dalam krisis ini. Mereka menuding manuver militer AS dan Israel justru menjadi pemantik kehancuran di wilayah mereka sendiri.

“Trump yang memulai perang ini, dan kamilah yang harus menanggung akibatnya,” tegas seorang pejabat tinggi dari negara Teluk yang meminta identitasnya dirahasiakan, dikutip dari The Washington Post via Middle East Monitor.

Ia menambahkan bahwa level amarah terhadap Washington telah menyentuh titik tertinggi sejak agresi militer AS dan Israel menghantam Iran pada Februari lalu.

BACA JUGA  JK Sebut Prabowo Perlu Bertemu Trump untuk Upaya Perdamaian

Dampak perang ini terlampau mahal bagi kawasan. Setelah berbulan-bulan menjadi sasaran empuk hujan rudal serta gempuran drone dari Iran dan kelompok proksinya, negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, hingga Bahrain mulai melontarkan kritik pedas secara terbuka.

Bahkan, kepercayaan terhadap Paman Sam makin tergerus. Sejumlah negara Teluk dilaporkan mulai mempertanyakan kembali manfaat serta urgensi keberadaan pangkalan militer raksasa AS di tanah mereka. Keberadaan pangkalan yang dulunya dianggap sebagai perisai keamanan, kini justru dipandang sebagai magnet ancaman.

Sikap inkonsisten Trump pun kian memperkeruh suasana. Sang Presiden AS berulang kali mengobral ancaman militer tingkat tinggi terhadap Teheran, namun secara mendadak membatalkannya dengan klaim adanya kemajuan perundingan—meski pada kenyataannya tidak ada kesepakatan konkrit yang tercapai.

BACA JUGA  DPR Ingatkan Pemerintah Soal Risiko Kenaikan Harga BBM

Menanggapi gejolak ini, pihak Gedung Putih berusaha meredam ketegangan. Seorang pejabat senior menegaskan bahwa Trump masih “memiliki hubungan yang luar biasa dengan seluruh mitra di Teluk” dan mengklaim koordinasi tetap berjalan intensif.

Kendati demikian, kalkulasi geopolitik kini berubah drastis. Meski beberapa negara Teluk sempat berharap AS menang cepat, perang tanpa akhir ini justru menjadi bumerang fatal. Di sisi lain, Oman dan Iran diam-diam telah menggelar negosiasi terkait alur pelayaran aman di Selat Hormuz. Teheran menegaskan, normalisasi jalur perdagangan vital dunia tersebut hanya bisa terjadi jika AS menghentikan seluruh aksi militernya. (Mun)

TRENDING