EKBIS
Serangan Balasan AS ke Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
AKTUALITAS.ID – Harga minyak dunia berbalik menguat pada perdagangan Asia, Rabu (10/6/2026), setelah sempat terpuruk pada sesi sebelumnya. Pemulihan ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menyusul serangan terbaru Amerika Serikat terhadap target Iran.
Pasar energi global yang sebelumnya sempat tenang akibat sinyal de-eskalasi konflik kini kembali dihantui risiko gangguan pasokan. Investor mulai memburu kontrak minyak setelah muncul kekhawatiran bahwa jalur distribusi energi dunia kembali berada dalam ancaman.
Harga minyak Brent untuk kontrak Agustus tercatat naik 1,8 persen menjadi USD93,08 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat dengan persentase yang sama ke level USD89,78 per barel.
Kenaikan tersebut terjadi hanya sehari setelah kedua kontrak minyak utama dunia mengalami tekanan hebat dan sempat anjlok sekitar tiga persen hingga menyentuh level terendah dalam tujuh minggu terakhir.
Pemicu utama rebound harga minyak datang dari meningkatnya tensi antara Amerika Serikat dan Iran. Washington dilaporkan melancarkan serangan terhadap sejumlah target Iran di sekitar Selat Hormuz menyusul insiden jatuhnya helikopter Apache milik militer AS yang disebut disebabkan serangan pesawat nirawak Iran.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut operasi tersebut sebagai respons yang proporsional. Namun pernyataan keras dari Teheran yang berjanji akan membalas setiap aksi militer lanjutan langsung memicu kekhawatiran pasar.
Situasi ini mengancam harapan pasar terhadap gencatan senjata yang baru saja tercapai antara Iran dan Israel beberapa hari lalu. Sebelumnya, pelaku pasar sempat optimistis konflik akan bergerak menuju jalur diplomasi sehingga memicu aksi jual besar-besaran di pasar minyak.
Kini fokus utama investor kembali tertuju pada Selat Hormuz, salah satu jalur energi paling vital di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair global melintasi kawasan tersebut setiap harinya.
Setiap ancaman terhadap keamanan Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga energi global karena dapat mengganggu distribusi minyak dari negara-negara produsen utama di kawasan Teluk.
Di sisi lain, sentimen bullish juga datang dari data persediaan minyak mentah Amerika Serikat yang menunjukkan penurunan jauh lebih besar dari perkiraan pasar.
American Petroleum Institute (API) melaporkan stok minyak mentah AS turun 9,12 juta barel dalam sepekan terakhir. Angka tersebut jauh melampaui ekspektasi pasar yang hanya memperkirakan penurunan sekitar 3,4 juta barel.
Penurunan tajam cadangan minyak ini memperkuat kekhawatiran bahwa pasokan global bisa semakin ketat apabila konflik Timur Tengah terus meningkat dan mengganggu rantai distribusi energi.
Pasar kini menanti data resmi inventaris energi dari Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA). Jika data pemerintah mengonfirmasi penurunan stok yang signifikan, harga minyak dunia berpotensi melanjutkan reli dalam perdagangan berikutnya.
Kombinasi antara ketegangan geopolitik, risiko gangguan pasokan di Selat Hormuz, dan menyusutnya cadangan minyak AS menjadi faktor utama yang saat ini menggerakkan pasar energi global. Kondisi tersebut membuat investor kembali bersiap menghadapi potensi lonjakan volatilitas harga minyak dalam beberapa hari ke depan. (Firman/Mun)
-
RIAU15/06/2026 20:30 WIBJatanras Polda Riau Tangkap Sindikat Begal, Curanmor hingga Pencuri Mobil
-
EKBIS15/06/2026 22:00 WIBDipanggil Prabowo ke Kertanegara, Purbaya: Biasa, Ngobrolin Strategi Ekonomi
-
RIAU15/06/2026 18:30 WIBKapolsek Kandis Beri Hadiah Bibit Matoa untuk Personel yang Ulang Tahun
-
PAPUA TENGAH15/06/2026 22:30 WIBSemangat Gotong Royong, Kodim 1710/Mimika Bersihkan Lingkungan Bersama Masyarakat
-
NUSANTARA16/06/2026 12:30 WIBGempa Besar M6.7 Guncang Palu
-
DUNIA15/06/2026 19:00 WIBKorut Tegaskan Status Nuklir Tak Bisa Diubah
-
NASIONAL15/06/2026 20:00 WIBBPIP Ajukan Rp343 Miliar untuk Bangun Pusdiklat Pancasila
-
OLAHRAGA15/06/2026 23:00 WIBReal Madrid Resmi Rekrut Marc Cucurella