NASIONAL
BMKG: Gempa Megathrust di Selat Sunda dan Mentawai-Siberut Tinggal Menunggu Waktu
AKTUALITAS.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengingatkan potensi gempa megathrust yang dapat terjadi di Indonesia, khususnya di zona seismic gap Selat Sunda dan Mentawai-Siberut. Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa meski belum ada indikasi gempa besar dalam waktu dekat, potensi terjadinya gempa besar di kedua wilayah tersebut sangat tinggi, mengingat sudah ratusan tahun tidak terjadi pergerakan gempa signifikan.
“Gempa megathrust di zona Selat Sunda dan Mentawai-Siberut bukanlah sesuatu yang bisa dianggap sepele. Kedua wilayah ini sudah lebih dari dua abad tidak mengalami gempa besar, jadi kita harus lebih serius dalam mempersiapkan mitigasi bencana,” ungkap Daryono, Jumat (15/12/2024).
Sebagai referensi, gempa besar terakhir di Selat Sunda terjadi pada 1957, dengan usia seismic gap mencapai 267 tahun, sedangkan di Mentawai-Siberut, gempa besar terakhir tercatat pada 1797, dengan usia seismic gap 227 tahun. Menurut Daryono, usia seismic gap ini jauh lebih lama dibandingkan dengan peristiwa gempa di zona lainnya, seperti di Jepang, yang memiliki interval lebih pendek.
“Kalimat ‘tinggal menunggu waktu’ ini bukan berarti gempa besar akan segera terjadi, tapi segmen sumber gempa di zona tersebut sudah lama tidak bergerak, sehingga sangat penting untuk kita siap sedia,” tambah Daryono.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, juga menegaskan bahwa isu gempa megathrust ini bukanlah hal baru. BMKG bersama dengan para ahli terus mengingatkan masyarakat akan potensi bencana ini agar langkah mitigasi dapat segera dilakukan. “Isu megathrust sudah lama dibahas, namun tujuan kami mengingatkan adalah untuk mendorong tindakan nyata dalam mitigasi,” jelasnya.
BMKG telah melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi kemungkinan bencana ini, seperti menempatkan sensor sistem peringatan dini tsunami (InaTEWS) di zona rawan dan melakukan edukasi kepada masyarakat, baik lokal maupun internasional. Selain itu, BMKG bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk menyiapkan infrastruktur mitigasi bencana, termasuk jalur evakuasi dan shelter tsunami.
“Kami juga bergabung dengan Indian Ocean Tsunami Information Center untuk mengedukasi 25 negara di Samudra Hindia mengenai cara menghadapi gempa dan tsunami,” tutup Dwikorita. BMKG berharap langkah-langkah antisipatif ini dapat meminimalisir dampak dari potensi gempa megathrust yang dapat terjadi di masa depan. (Damar Ramadhan)
-
NASIONAL13/07/2026 19:30 WIBPrabowo Diminta Limpahkan Kasus Febrie Adriansyah ke KPK
-
RAGAM13/07/2026 19:00 WIBEuforia Koplove Fest Volume 4, Bejo Jahe Merah Manjakan Pengunjung dengan Berbagai Fasilitas
-
NASIONAL13/07/2026 22:30 WIBBuku Puisi Esai Denny JA Diterjemahkan dalam 35 Bahasa
-
OTOTEK13/07/2026 20:30 WIBDaftar 10 AI Gratis Pembuat Presentasi Terbaik 2026, Mudah dan Cepat
-
NASIONAL14/07/2026 09:00 WIBSidang DJKA Bongkar Dugaan Aliran Rp100 Juta ke Gus Miftah
-
OLAHRAGA13/07/2026 22:00 WIBPiala Dunia 2030 Berpotensi Tambah Peserta Jadi 64 Negara, Ini Alasan FIFA
-
JABODETABEK14/07/2026 05:30 WIBBMKG Prediksi Langit Jakarta Berawan Seharian
-
NUSANTARA13/07/2026 23:00 WIBCik Ujang Hadiri Rapat Paripurna DPRD Sumsel, Pansus Dorong Optimalisasi Pendapatan Daerah