NASIONAL
Pengamat sebut Prabowo Tak Sedang Serang Wartawan atau LSM
AKTUALITAS.ID – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut istilah “londo ireng” dalam peringatan Hari Lahir Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada Kamis (23/7/2026) masih menjadi perbincangan luas di media sosial. Ucapan tersebut memicu beragam penafsiran, terutama karena Prabowo menyebut sejumlah profesi dalam pidatonya.
Dalam pidatonya, Prabowo mengatakan:
“Londo-londo ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain. Wartawan, jurnalis, apa itu, pengamat, LSM.”
Pernyataan itu kemudian menuai berbagai respons. Menanggapi polemik tersebut, Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Iwan Setiawan menilai ucapan Presiden lebih tepat dipahami sebagai kiasan politik, bukan ditujukan secara harfiah kepada profesi tertentu.
“Saya melihat pernyataan Presiden Prabowo lebih tepat dipahami sebagai kiasan politik, bukan ditujukan kepada individu atau kelompok tertentu secara harfiah,” kata Iwan Setiawan dalam keterangan resminya, Senin (27/7/2026).
Menurut Iwan, istilah “londo ireng” telah lama dikenal dalam sejarah Indonesia sebagai simbol bagi pihak-pihak yang berasal dari bangsa sendiri, tetapi dinilai lebih berpihak pada kepentingan asing daripada kepentingan nasional.
Ia menilai pernyataan Presiden tidak dapat dipisahkan dari konsistensi Prabowo yang selama ini mengusung agenda kedaulatan nasional, seperti hilirisasi industri, ketahanan pangan, swasembada energi, hingga penguatan industri dalam negeri.
Dalam konteks tersebut, Iwan berpendapat Presiden sedang mengingatkan agar elite bangsa tidak menjadi perpanjangan kepentingan eksternal ketika Indonesia berupaya memperkuat posisi tawarnya di tingkat global.
Meski demikian, Iwan menegaskan bahwa pidato tersebut tidak dapat dimaknai sebagai tudingan kepada seluruh wartawan, jurnalis, aktivis LSM, akademisi, maupun pengamat.
“Saya tidak melihat Presiden sedang menggeneralisasi profesi tertentu. Sangat keliru apabila istilah itu kemudian diarahkan kepada seluruh jurnalis, aktivis LSM, akademisi, atau pengamat,” ujarnya.
Menurutnya, kritik Presiden dalam penafsirannya ditujukan kepada oknum, apa pun profesinya, yang secara sadar memperjuangkan kepentingan asing dengan mengorbankan kepentingan nasional.
“Yang menjadi persoalan bukan profesinya, melainkan apabila ada pihak mana pun, baik pejabat, politisi, akademisi, pengusaha, pengamat, LSM, maupun media yang secara sadar memperjuangkan kepentingan asing dengan mengorbankan kepentingan nasional,” kata Iwan.
Ia menutup analisanya dengan menyatakan bahwa istilah “londo ireng”, menurut pandangannya, lebih merupakan kritik terhadap orientasi kepentingan dan cara berpikir, bukan terhadap identitas profesi tertentu.
Pernyataan Presiden Prabowo tersebut hingga kini masih menjadi bahan diskusi di ruang publik, dengan berbagai pihak memberikan penafsiran yang berbeda sesuai perspektif masing-masing. (Bowo/Mun)
-
NUSANTARA29/10/2026 07:30 WIBPaman Mau Perkosa Keponakan, Lansia Penolong Malah Dihajar Hingga Tewas
-
NASIONAL29/10/2026 07:00 WIBDPR Pasang Target Ambisius untuk RUU Perampasan Aset
-
JABODETABEK29/10/2026 05:30 WIBBMKG: Hujan Petir Diprediksi Guyur Sejumlah Wilayah Jakarta
-
NASIONAL29/10/2026 10:00 WIBDemo Bukan Perang! Koalisi Sipil Desak Pasukan TNI Ditarik dari Jalanan Jakart
-
NASIONAL29/10/2026 06:00 WIBDasco Minta Kritik Kabut Asap Dijawab dengan Penegakan Hukum
-
DUNIA28/10/2026 21:00 WIBNetanyahu Tuduh Lawan Ingin Akhiri Negara Yahudi
-
EKBIS29/10/2026 10:30 WIBBaru Naik Dua Hari, Emas Antam Mendadak Berbalik Arah
-
NASIONAL29/10/2026 11:00 WIBErna Sari Dewi: Pemuda Jangan Cuma Jadi Penonton Perubahan