Connect with us

NASIONAL

Puadi : Demokrasi Bisa Kalah oleh Algoritma

Aktualitas.id -

Anggota Bawaslu RI, Puadi,

AKTUALITAS.ID – Derasnya arus teknologi memunculkan ancaman baru yang tak kalah mengerikan dari kecurangan pemilu: matinya demokrasi di tangan algoritma. Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI secara tajam memperingatkan bahwa saat ini informasi yang benar sering kali tenggelam oleh konten viral yang belum tentu penting atau valid bagi publik.

Anggota Bawaslu RI, Puadi, menegaskan bahwa lanskap ruang publik telah dibajak oleh kecepatan distribusi informasi. Hal ini disampaikannya di hadapan mahasiswa dalam acara Bawaslu Campus Connect bertajuk “Generasi Digital, Demokrasi Transparan” di Universitas Airlangga (Unair), Surabaya.

Menurutnya, jumlah likes atau shares tidak bisa lagi dijadikan takaran kebenaran.

“Jangan menjadi generasi yang paling cepat menerima informasi. Jadilah generasi yang paling kritis dalam memverifikasi informasi,” tegas Puadi memberikan peringatan keras.

BACA JUGA  Bawaslu Kampus Connect Dorong Mahasiswa Jadi Agen Literasi Digital Pemilu

Demokrasi vs Algoritma: Viral Belum Tentu Benar

Tantangan terbesar saat ini bukan lagi sekadar infrastruktur digital, melainkan bagaimana masyarakat merespons informasi. Bawaslu menyoroti ironi dunia digital di mana kebenaran sering kali kalah saing dengan konten sensasional yang didorong oleh algoritma platform online.

Puadi menuntut mahasiswa agar tidak pasrah menjadi sekadar konsumen pasif. Mahasiswa dituntut mengambil alih kendali sebagai produsen informasi sekaligus tameng fact-checking untuk menguji validitas, sumber, dan motif di balik setiap isu yang beredar. Demokrasi butuh warga yang rasional, bukan yang mudah terseret arus viral.

Bukan Sekadar Bikin Aplikasi, Kampus Harus Jadi ‘Laboratorium’

Menghadapi ancaman ini, Bawaslu juga mengkritik tren transformasi digital yang sering kali salah kaprah karena hanya berorientasi pada pembuatan aplikasi. Teknologi, menurut Puadi, harus didesain untuk membaca potensi kerawanan dan mencegah pelanggaran sebelum terjadi, bukan sekadar alat administrasi.

BACA JUGA  Bawaslu Diminta Rawat Keadilan Pemilu Lewat Penanganan Pelanggaran

Lebih jauh, Puadi menantang perguruan tinggi untuk berhenti menjadi sekadar tempat sosialisasi numpang lewat. Kampus harus berevolusi menjadi “Laboratorium Demokrasi”—pusat riset kepemiluan, pemetaan risiko, literasi digital, hingga inovasi pengawasan.

Di ujung pesannya, Bawaslu memberikan satu realita pahit bagi generasi digital masa kini: kecanggihan teknologi dan big data tidak akan ada artinya tanpa integritas manusia. Sebab di era kuasa algoritma, yang viral belum tentu benar, dan yang benar belum tentu viral. (Mun)

TRENDING