Connect with us

NUSANTARA

Bapak dan Dua Anak Tewas Dalam Bentrokan di OKI

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Tragedi berdarah mengguncang Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Bentrokan antarwarga dari dua desa yang dipicu saling sindir di media sosial berakhir maut dengan menewaskan tiga orang yang merupakan satu keluarga, terdiri dari seorang ayah dan dua anaknya.

Korban tewas diketahui berinisial W (50), DP (30), dan F (18). Sementara dari pihak lawan, dua orang yang merupakan ayah dan anak, yakni NZ (50) dan DN (20), mengalami luka kritis dan kini telah ditetapkan sebagai tersangka.

Peristiwa memilukan itu bermula dari unggahan di media sosial yang memicu saling sindir antara warga Desa Jambu Ilir dan Desa Bumi Agung, Kecamatan Tanjung Lubuk. Ketegangan yang semula terjadi di dunia maya kemudian berlanjut ke percakapan melalui aplikasi WhatsApp.

Alih-alih meredam konflik, kedua kelompok justru sepakat untuk bertemu langsung di kawasan Pasar Tanjung Lubuk pada Kamis (15/10/2026) malam.

Puluhan warga dari Desa Bumi Agung bergerak menuju lokasi menggunakan sepeda motor. Sementara kelompok dari Desa Jambu Ilir datang menggunakan tiga unit mobil.

Namun sebelum tiba di lokasi yang disepakati, situasi memanas ketika salah satu mobil dari kelompok Desa Jambu Ilir menabrak rombongan pengendara motor dari Desa Bumi Agung.

Insiden tersebut langsung menyulut emosi kedua belah pihak hingga bentrokan terbuka tak terhindarkan. Aksi saling serang berlangsung hingga aparat kepolisian tiba di lokasi dan membubarkan massa.

Kasi Humas Polres OKI, Iptu Hendi Yusrian, mengungkapkan bahwa akar persoalan berasal dari sebuah unggahan di TikTok yang memancing kemarahan warga desa lain beberapa hari sebelum kejadian.

“Bentrokan warga dari dua desa tersebut dilatarbelakangi saling sindir di media sosial gara-gara suatu postingan. Warga dari dua desa sudah bersepakat untuk bertemu dan terjadilah saling serang,” kata Hendi, Senin (19/10).

Menurutnya, perselisihan yang awalnya terjadi di ruang digital berkembang menjadi konflik fisik karena melibatkan banyak warga dari masing-masing desa.

Saat ini, ketiga korban tewas telah dimakamkan di kampung halamannya masing-masing. Sementara dua korban luka yang masih menjalani perawatan rumah sakit telah ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara tersebut.

Meski situasi sudah berangsur kondusif, aparat keamanan masih melakukan penjagaan dan pemantauan ketat untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya aksi balasan maupun bentrokan susulan.

“Situasi di dua desa itu kondusif, tiga jenazah korban telah dimakamkan. Tapi kami masih melakukan pengawasan agar tidak terjadi bentrokan susulan,” ujar Hendi.

Peristiwa ini kembali menjadi peringatan keras mengenai bahaya konflik yang berawal dari media sosial. Perselisihan yang bermula dari saling sindir di dunia maya dapat berubah menjadi tragedi nyata yang merenggut nyawa dan meninggalkan duka mendalam bagi banyak keluarga. (Irawan/Mun)

TRENDING

Exit mobile version