Connect with us

NUSANTARA

BMKG Ungkap Daftar Wilayah yang Berpotensi Diselimuti Awan Cumulonimbus

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) di berbagai wilayah Indonesia selama periode 26 Oktober hingga 1 November 2026. Fenomena ini menjadi perhatian karena awan Cumulonimbus identik dengan cuaca signifikan seperti hujan lebat, petir, angin kencang, hingga gangguan aktivitas penerbangan.

Berdasarkan prakiraan cuaca penerbangan yang disusun menggunakan model cuaca numerik, sejumlah daerah masuk dalam kategori Frequent (FRQ) dan Occasional (OCNL) terkait potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus.

Kategori Frequent menunjukkan cakupan potensi awan Cumulonimbus lebih dari 75 persen. Dalam periode tersebut, kawasan Samudra Hindia selatan Banten menjadi wilayah yang berpotensi mengalami pertumbuhan awan Cumulonimbus dengan intensitas tertinggi.

BACA JUGA  BMKG Prediski Wilayah Jaksel dan Jaktim Diguyur Hujan Disertai Peter

Sementara itu, kategori Occasional menunjukkan cakupan spasial antara 50 hingga 75 persen. Daftar wilayah yang masuk kategori ini mencakup sebagian besar kawasan Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Di Pulau Sumatra, wilayah yang berpotensi mengalami pertumbuhan awan Cumulonimbus meliputi Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu, dan Lampung.

Untuk Pulau Jawa, BMKG memasukkan Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah ke dalam area dengan potensi pertumbuhan awan Cb kategori Occasional.

Kondisi serupa juga diperkirakan terjadi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. Sementara di Sulawesi, wilayah yang masuk pemantauan meliputi Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Utara.

BACA JUGA  Prakiraan Cuaca Kamis 21 Agustus 2025 di Jakarta: Hujan Ringan dan Petir

Di kawasan timur Indonesia, potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus terdeteksi di Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.

Tak hanya wilayah daratan, sejumlah perairan strategis nasional juga masuk dalam daftar pemantauan. Di antaranya Laut Jawa bagian barat, tengah, dan timur, Laut Natuna Utara, Laut Seram, Selat Karimata, Selat Makassar, Selat Malaka, hingga kawasan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik yang berbatasan dengan wilayah Indonesia.

BMKG menjelaskan bahwa potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus dibagi ke dalam tiga kategori utama. Pertama, Isolated Cumulonimbus (ISOL CB) dengan cakupan kurang dari 50 persen. Kedua, Occasional Cumulonimbus (OCNL CB) dengan cakupan 50 hingga 75 persen. Ketiga, Frequent Cumulonimbus (FRQ CB) dengan cakupan lebih dari 75 persen.

BACA JUGA  BMKG: Jabodetabek Hujan Ringan hingga Sedang Minggu 15 Februari

Informasi ini merupakan bagian dari sistem pemantauan atmosfer yang digunakan untuk mendukung prakiraan cuaca, khususnya sektor penerbangan. Keberadaan awan Cumulonimbus menjadi salah satu parameter penting karena berpotensi memicu turbulensi, hujan deras, petir, hingga angin kencang.

Masyarakat di wilayah yang masuk dalam daftar pemantauan diimbau untuk terus mengikuti perkembangan informasi cuaca terbaru dan meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan perubahan cuaca signifikan selama sepekan ke depan. (Kusuma/Mun)

TRENDING