Connect with us

POLITIK

Golkar Pertanyakan Konsistensi Politik PDIP

Aktualitas.id -

Sekretaris Jenderal Partai Golkar Muhammad Sarmuji/Ist

AKTUALITAS.ID – Dinamika politik nasional kembali menghangat. Kali ini, Partai Golkar melontarkan sindiran terhadap sikap politik PDI Perjuangan (PDIP) yang belakangan menyebut diri sebagai partai penyeimbang di tengah berbagai kritik dan aksi demonstrasi terhadap pemerintah.

Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar, Muhammad Sarmuji, menegaskan bahwa partainya menghormati pilihan politik PDIP. Namun, ia mengaku belum memahami secara jelas apa yang dimaksud dengan posisi sebagai “penyeimbang”.

“Terserah PDIP saja. Kalau membaca komentar beberapa tokoh PDIP, mereka berposisi sebagai penyeimbang. Kami menghormati posisi itu,” ujar Sarmuji, Jumat (19/6/2026).

Meski menghormati sikap tersebut, Sarmuji melontarkan pernyataan yang menyita perhatian.

“Selama ini entah apa yang diseimbangkan? Nanti rakyat yang menilai,” katanya.

Menurut Sarmuji, istilah “penyeimbang” sebenarnya sudah cukup menggambarkan posisi politik yang diambil PDIP. Ia memilih tidak memperpanjang polemik dan menyerahkan penilaian sepenuhnya kepada masyarakat.

“Istilah penyeimbang saja sebenarnya sudah bisa dibaca bagi yang mau membaca. Tidak perlu dipaksa supaya jelas. Kita hormati saja,” lanjutnya.

Pernyataan Golkar ini menambah deretan kritik terhadap sikap politik PDIP. Sebelumnya, Wakil Ketua Umum PKB Jazilul Fawaid juga meminta PDIP menentukan posisi politiknya secara lebih tegas dan tidak berada di wilayah yang dianggap abu-abu.

Jazilul menyoroti kemunculan salah satu kader senior PDIP, Andi Widjajanto, dalam aksi mahasiswa di kawasan Bundaran HI beberapa waktu lalu. Menurutnya, apabila memilih berada di luar pemerintahan, maka sikap tersebut sebaiknya dinyatakan secara terbuka.

“Kalau di oposisi, oposisi. Jangan abu-abu. Karena kami semua sedang berjuang keras mewujudkan janji Presiden,” ujar Jazilul.

Pernyataan dari Golkar dan PKB memperlihatkan bahwa posisi politik PDIP terus menjadi perhatian di tengah dinamika nasional. Di satu sisi, PDIP menyebut diri sebagai kekuatan penyeimbang. Di sisi lain, sejumlah partai mempertanyakan bagaimana posisi tersebut diwujudkan dalam praktik politik sehari-hari.

Perdebatan mengenai peran PDIP sebagai “penyeimbang” diperkirakan masih akan menjadi salah satu isu yang mewarnai peta politik nasional dalam waktu dekat, sementara publik akan terus mencermati arah dan konsistensi sikap politik setiap partai. (Bowo/Mun)

TRENDING

Exit mobile version