Connect with us

OASE

Peringatan Al-Qur’an untuk Pembalak Hutan dan Perusak Lingkungan

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: meta ai

AKTUALITAS.ID – Di tengah krisis lingkungan yang semakin mengkhawatirkan, pesan Al-Qur’an tentang pentingnya menjaga alam kembali menjadi sorotan. Jauh sebelum dunia mengenal istilah deforestasi, perubahan iklim, hingga krisis karbon, kitab suci umat Islam telah memberikan peringatan keras agar manusia tidak membuat kerusakan di muka bumi.

Salah satu kisah yang paling sering dikaitkan dengan peringatan tersebut adalah kaum Ashabul Aikah atau “penghuni hutan”, yaitu kaum Nabi Syu’aib AS yang dikenal karena membangkang terhadap perintah Allah dan melakukan berbagai kecurangan.

Kisah mereka diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai pelajaran bahwa kesombongan, ketidakjujuran, dan kerusakan sosial pada akhirnya berujung pada kehancuran.

Namun pesan Al-Qur’an tidak berhenti pada kisah sejarah semata.

Dalam berbagai ayat, Allah SWT secara tegas melarang manusia membuat kerusakan di bumi setelah diciptakan dalam keadaan baik dan seimbang.

Larangan tersebut kini terasa semakin relevan ketika jutaan hektare hutan dunia terus hilang setiap tahun akibat pembalakan liar, alih fungsi lahan, kebakaran hutan, dan eksploitasi sumber daya yang berlebihan.

Kerusakan lingkungan yang terjadi hari ini bukan sekadar persoalan ekologi, tetapi juga persoalan moral dan spiritual.

Ketika hutan ditebang tanpa kendali, bukan hanya pepohonan yang hilang. Habitat satwa musnah, sumber air berkurang, tanah menjadi rentan longsor, dan perubahan iklim semakin sulit dikendalikan.

Al-Qur’an menggambarkan kondisi ini secara tegas bahwa kerusakan di darat dan di laut muncul akibat perbuatan tangan manusia sendiri.

Pesan tersebut seolah menjadi cermin bagi kondisi dunia saat ini.

Menariknya, pohon merupakan salah satu makhluk yang paling banyak disebut dalam Al-Qur’an. Berbagai jenis pohon seperti kurma, zaitun, anggur, tin, pisang hingga sidrah disebut sebagai tanda kekuasaan Allah sekaligus sumber kehidupan bagi manusia.

Pohon bukan hanya menghasilkan buah, tetapi juga menjaga keseimbangan alam, menyediakan oksigen, menyerap karbon, dan menjadi rumah bagi jutaan makhluk hidup lainnya.

Karena itu, menanam pohon dalam ajaran Islam bukan sekadar aktivitas lingkungan, melainkan juga amal kebajikan yang bernilai ibadah.

Bahkan Rasulullah SAW menegaskan bahwa setiap pohon yang ditanam lalu dimanfaatkan manusia, hewan, maupun burung akan menjadi sedekah yang pahalanya terus mengalir.

Pesan tersebut memberikan perspektif bahwa menjaga hutan bukan hanya tugas pemerintah atau aktivis lingkungan, tetapi tanggung jawab seluruh manusia sebagai khalifah di bumi.

Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim dan bencana ekologis, ajaran Islam justru menawarkan solusi yang sangat relevan: menjaga keseimbangan alam, melakukan penghijauan, menghindari perusakan lingkungan, dan memanfaatkan sumber daya secara bijaksana.

Kini pertanyaannya bukan lagi apakah manusia memahami pentingnya menjaga hutan.

Pertanyaan yang lebih besar adalah apakah manusia mau mendengarkan peringatan yang telah disampaikan sejak ribuan tahun lalu.

Sebab ketika hutan terus hilang dan kerusakan alam semakin meluas, yang dipertaruhkan bukan hanya kelestarian lingkungan, melainkan masa depan kehidupan manusia itu sendiri.

Al-Qur’an telah mengingatkan. Alam telah memberi tanda. Tinggal manusia yang menentukan apakah akan menjaga bumi atau terus berjalan menuju kerusakan yang lebih besar. (Mun)

TRENDING

Exit mobile version