EKBIS
Dolar AS Menggila Hancurkan Mata Uang Garuda
AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Jumat (19/6/2026). Mata uang Garuda dibuka melemah sekitar 51 poin atau 0,29 persen ke kisaran Rp17.845 per dolar AS, melanjutkan tren pelemahan yang telah berlangsung dalam beberapa hari terakhir.
Data perdagangan di pasar spot menunjukkan rupiah sempat bergerak di kisaran Rp17.841–Rp17.848 per dolar AS pada awal sesi. Posisi ini lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.794 per dolar AS, menandakan tekanan terhadap mata uang domestik masih belum mereda.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah dominasi penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang Asia. Tidak hanya Indonesia, sejumlah mata uang kawasan seperti peso Filipina, baht Thailand, dolar Singapura, ringgit Malaysia, hingga dolar Hong Kong juga mengalami tekanan. Sebaliknya, yen Jepang dan won Korea Selatan justru mampu mencatatkan penguatan terhadap dolar AS.
Sorotan terbesar datang dari proyeksi sejumlah pelaku pasar yang memperkirakan rupiah masih berisiko melemah hingga mendekati Rp18.000 per dolar AS apabila tekanan eksternal terus berlanjut. Level psikologis tersebut menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi sentimen pasar keuangan maupun biaya impor.
Menariknya, pelemahan rupiah tetap terjadi meskipun Bank Indonesia (BI) telah mengambil langkah agresif dengan menaikkan BI Rate secara bertahap hingga total 100 basis poin dalam waktu kurang dari satu bulan. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan meredam tekanan dari pasar global.
Namun hingga kini, penguatan dolar AS dan tingginya ketidakpastian di pasar internasional masih menjadi faktor dominan yang membayangi pergerakan rupiah. Kondisi ini membuat pelaku pasar terus mencermati arah kebijakan moneter global serta respons lanjutan dari Bank Indonesia.
Dengan volatilitas yang masih tinggi, pergerakan rupiah diperkirakan akan tetap sensitif terhadap perkembangan ekonomi global dan arus modal asing dalam beberapa waktu ke depan. Meski begitu, proyeksi pelemahan hingga Rp18.000 masih berupa perkiraan analis, bukan kepastian, sehingga arah kurs akan tetap bergantung pada dinamika pasar dan kebijakan ekonomi selanjutnya. (Firman/Mun)
-
JABODETABEK18/06/2026 19:30 WIBSetneg Buka Peluang Rekrut Kembali Eks Karyawan Hotel Sultan
-
EKBIS18/06/2026 19:00 WIBIndonesia Raja Komoditas, Tapi Harga Masih Ditentukan Bursa Luar Negeri
-
JABODETABEK18/06/2026 18:30 WIBNegara Ambil Alih Pengelolaan Hotel Sultan untuk Kepentingan Publik
-
NASIONAL18/06/2026 14:00 WIBEddy Soeparno Desak Anggaran EBT Ditambah
-
NASIONAL18/06/2026 17:00 WIBKPK Dalami Dugaan Pengaturan Lelang Proyek Kereta di Kemenhub
-
EKBIS18/06/2026 16:00 WIBPrabowo Panggil Bos Himbara ke Istana
-
DUNIA18/06/2026 12:00 WIBTrump Sebut Dunia Tak Bisa Bertahan Lama Tanpa Deal Iran
-
RAGAM18/06/2026 17:30 WIBBRI Jazz Gunung 2026 Hadirkan Isyana Sarasvati hingga Indra Lesmana