DUNIA
PM Singapura: Ancaman Resesi Serius Mengintai akibat Ketegangan Dagang Global
AKTUALITAS.ID — Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, memperingatkan bahwa negara kota itu kini menghadapi tantangan ekonomi serius akibat ketegangan dagang global yang dipicu oleh kebijakan tarif baru dari Amerika Serikat. Dalam pidato Hari Buruh (May Day), Wong menyebut potensi “resesi besar-besaran” tidak bisa diabaikan.
Presiden AS Donald Trump bulan lalu mengumumkan tarif dasar minimum sebesar 10 persen untuk seluruh impor—termasuk dari Singapura. Langkah tersebut langsung berdampak pada dunia usaha: banyak pesanan dibatalkan atau ditunda, investasi tertahan, dan operasi perusahaan dikurangi.
“Amerika sudah merasakan dampaknya. Gelombang ini akan menyebar ke seluruh dunia, dan Singapura tidak akan luput,” ujar Wong.
Ia membandingkan krisis ini dengan pandemi COVID-19, yang awalnya diperkirakan akan cepat selesai, namun justru berkepanjangan. “Ini bukan tantangan jangka pendek. Kita harus siap secara mental menghadapi situasi ini untuk waktu yang lama,” tegasnya.
Wong juga menyoroti tekanan biaya hidup yang sudah lebih dulu dirasakan masyarakat akibat inflasi global. Meski inflasi mulai mereda, perkembangan global terbaru bisa memicu lonjakan harga kembali.
“Tidak ada yang tahu seberapa lama ini akan berlangsung. Tapi kita harus bersatu, waspada, dan memperkuat fondasi ekonomi kita,” tutupnya dengan nada optimis. (PURNOMO/DIN)
-
NASIONAL25/08/2026 13:00 WIBBank Mandiri Kena Serbu Netizen usai Bekukan Rekening Rp80,9 Juta
-
NASIONAL25/08/2026 11:00 WIBPrabowo Perintahkan Usut 4 Korporasi di Kalbar
-
DUNIA25/08/2026 12:00 WIBNetanyahu Diduga Sengaja Panaskan Gaza Demi Tunda Pemilu
-
NASIONAL25/08/2026 09:00 WIBBMKG Ungkap Asap Karhutla Kalimantan Bisa Menembus Negara Tetangga
-
NUSANTARA25/08/2026 19:00 WIBGempa Flores 1992 Lebih Mematikan dari 2026
-
NASIONAL25/08/2026 17:00 WIBMK Didesak Tegaskan Batas Masa Jabatan Kapolri
-
NASIONAL25/08/2026 14:00 WIBBNPB: NTT Diguncang 6.409 Gempa Susulan
-
DUNIA25/08/2026 15:00 WIBInggris Buka Akses Teknologi Rudal ke Ukraina

















