DUNIA
Netanyahu Tetap Tolak Negara Palestina Meski Ditawari Normalisasi oleh Arab Saudi
AKTUALITAS.ID – Dalam wawancara terbaru, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa pendirian negara Palestina bukanlah pilihan dalam rencana politiknya, termasuk dalam konteks pembicaraan normalisasi hubungan dengan Arab Saudi. Pernyataan ini datang di tengah upaya diplomatik intensif yang melibatkan Amerika Serikat dan sejumlah negara Arab untuk memperluas normalisasi antara Israel dan dunia Arab.
Arab Saudi berkali‑kali menegaskan bahwa langkah normalisasi dengan Israel baru bisa dilakukan jika Tel Aviv menerima dan mengakui negara Palestina sesuai prinsip two‑state solution. Namun Netanyahu menegaskan hal tersebut tidak masuk dalam agenda pemerintahannya. “Negara Palestina tidak ada dalam rencana saya, bahkan dalam kaitannya dengan upaya normalisasi dengan Arab Saudi,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa pernyataan publik tidak selalu mencerminkan pembicaraan di ruang tertutup.
Penolakan Netanyahu ini menimbulkan ketegangan diplomatik potensial. Sementara beberapa negara kawasan dan internasional mendukung solusi dua negara sebagai landasan perdamaian jangka panjang, kebijakan ekspansi permukiman dan pencaplokan sebagian wilayah di Tepi Barat oleh Israel terus menjadi sumber kritik dan penghambat proses politik.
Dorongan normalisasi antara Riyadh dan Tel Aviv kembali menguat setelah pertemuan Putra Mahkota Saudi Pangeran Mohammed bin Salman dengan Presiden AS di Gedung Putih. Riyadh menegaskan syaratnya: normalisasi harus terikat pada kemunculan solusi politik yang menjamin pembentukan negara Palestina yang diakui secara internasional. Pernyataan itu mempertegas perbedaan posisi antara tuntutan Saudi dan sikap resmi pemerintahan Israel saat ini.
Dampak dari kebuntuan ini beragam: pertama, potensi normalisasi Saudi‑Israel, yang bisa mengubah keseimbangan geopolitik Timur Tengah, berisiko tertunda atau batal jika persyaratan dua negara tidak dipenuhi. Kedua, penolakan pengakuan dapat memicu kritik internasional dan memperpanjang ketidakpastian bagi warga Palestina dan stabilitas regional. Ketiga, upaya diplomasi AS dan negara lain akan semakin menantang karena harus menengahi jurang kebijakan antara Riyadh dan Tel Aviv.
Pengamat menyarankan agar dialog multilateral yang melibatkan aktor regional dan internasional difokuskan pada jaminan keamanan, mekanisme implementasi solusi dua negara, dan jaminan perlindungan hak warga sipil. Tanpa itikad yang jelas dari semua pihak termasuk pengakuan Palestina oleh Israel – proses normalisasi dapat kehilangan legitimasi di mata dunia Arab dan komunitas internasional.
Penutup: Pernyataan Netanyahu menandai babak baru ketegangan dalam diplomasi Timur Tengah, di mana janji normalisasi besar seperti yang diisyaratkan Saudi tetap bergantung pada kemajuan nyata menuju solusi politik bagi Palestina. (Mun)
-
PAPUA TENGAH12/02/2026 14:16 WIBPT Freeport Tutup Sementara Akses Timika–Tembagapura Usai Penembakan di Mile 50
-
DUNIA12/02/2026 08:00 WIBGencatan Senjata Terancam! Netanyahu Lapor Trump Siapkan Operasi Militer Baru di Gaza
-
PAPUA TENGAH12/02/2026 15:18 WIBTPNPB-OPM Akui Serangan di Tembagapura, Sampaikan Tuntutan Politik
-
PAPUA TENGAH12/02/2026 18:47 WIBSeorang Pria Jadi Korban Pembacokan di Mimika, Ini Kronologinya
-
NASIONAL12/02/2026 10:00 WIBKasus Korupsi Ekspor CPO: Kejagung Ungkap 20 Perusahaan dan Tahan 11 Tersangka
-
JABODETABEK12/02/2026 05:30 WIBSiapkan Payung! Jabodetabek Diprediksi Hujan Seharian pada Kamis 12 Februari
-
PAPUA TENGAH12/02/2026 16:31 WIBKapendam Beberkan Kronologi Penembakan di Mile Post 50
-
POLITIK12/02/2026 07:00 WIBPosisi Gibran Terancam? Pengamat Bicara Peluang Cak Imin dalam Bursa Cawapres Prabowo 2029

















