EKBIS
Jumat Kelabu, IHSG Anjlok Lebih dari 1%
AKTUALITAS.ID – Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (24/7/2026) langsung dibuka dengan tekanan kuat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjerembab lebih dari 1 persen, mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar di tengah tekanan sentimen global.
Tekanan datang dari kombinasi kenaikan harga minyak dunia, kebijakan tarif baru Presiden Amerika Serikat Donald Trump, serta meningkatnya aksi jual di berbagai sektor saham.
Pada pembukaan perdagangan, IHSG langsung terkoreksi ke level 6.228,810, atau turun 1,37 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di 6.315,31.
Beberapa menit kemudian, indeks sempat bergerak di kisaran 6.235 atau melemah sekitar 1,27 persen, sebelum kembali berada di level 6.235,81 pada sekitar pukul 09.00 WIB, turun 79,50 poin atau 1,26 persen.
Aksi jual terlihat mendominasi sejak awal perdagangan. Di sesi pembukaan, hanya sekitar 134 saham yang berhasil menguat, sementara 369 saham melemah dan 174 saham bergerak stagnan. Data lain pada awal sesi juga menunjukkan dominasi saham merah dengan lebih dari 300 emiten mengalami penurunan harga.
Nilai transaksi pasar sudah mencapai sekitar Rp1,68 triliun dengan volume perdagangan sekitar 3,52 miliar lembar saham dalam lebih dari 220 ribu kali transaksi, menunjukkan tingginya aktivitas investor di tengah tekanan pasar.
Tekanan juga merata pada indeks-indeks utama. LQ45 melemah 1,51 persen, Jakarta Islamic Index (JII) turun 1,72 persen, IDX30 terkoreksi 1,48 persen, sementara MNC36 melemah 1,61 persen.
Hampir seluruh sektor di Bursa Efek Indonesia ikut terseret ke zona merah. Sektor infrastruktur menjadi yang paling tertekan dengan penurunan sekitar 1,55 persen, disusul sektor barang baku yang turun 1,30 persen serta barang konsumsi siklikal yang melemah 1,15 persen.
Di tengah tekanan tersebut, sektor properti menjadi satu-satunya sektor yang mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan sekitar 2,24 persen, menjadi penahan di saat mayoritas sektor mengalami koreksi.
Pelemahan IHSG mencerminkan sikap wait and see pelaku pasar terhadap perkembangan ekonomi global. Lonjakan harga energi, ketidakpastian kebijakan perdagangan Amerika Serikat, hingga meningkatnya kekhawatiran terhadap arah perekonomian dunia menjadi faktor yang mendorong investor memilih mengurangi eksposur pada aset berisiko.
Pelaku pasar kini menantikan perkembangan sentimen global berikutnya untuk melihat apakah tekanan terhadap pasar saham Indonesia akan berlanjut atau justru membuka peluang terjadinya rebound pada sesi perdagangan selanjutnya. (Firman/Mun)
-
JABODETABEK26/10/2026 05:30 WIBBMKG Prediksi Hujan Melanda Sebagian Besar Jakarta
-
POLITIK26/10/2026 06:00 WIBPKS-PDIP Satu Frekuensi Soal Polemik Gibran
-
OASE26/10/2026 05:00 WIBKata Api Disebut Lebih dari 150 Kali dalam Al-Quran
-
JABODETABEK26/10/2026 06:30 WIBCatat! Jadwal dan Lokasi SIM Keliling Jakarta Senin Ini
-
NUSANTARA26/10/2026 07:30 WIBNgeri! Api Melalap Jalur Gajah dan Rusa di Way Kambas
-
POLITIK26/10/2026 07:00 WIBGerindra Ingatkan Denny Indrayana soal Wacana Pemakzulan Gibran
-
DUNIA26/10/2026 08:00 WIBPrancis Laporkan Kematian Pertama Akibat Virus Shamonda pada Manusia
-
NASIONAL26/10/2026 09:00 WIBYLBHI Soroti Penangkapan dan Kekerasan Saat Gelombang Aksi Nasional

















