Connect with us

RAGAM

Sikat Gigi Jadi Bom Waktu Lingkungan

Aktualitas.id -

AKTUALITAS.IDSikat gigi selama ini dikenal sebagai benda sederhana yang digunakan setiap hari untuk menjaga kesehatan gigi. Namun di balik ukurannya yang kecil, sikat gigi ternyata menyimpan persoalan lingkungan yang tidak bisa dianggap remeh.

Istilah “tanda kiamat” dalam konteks ini bukan berarti sikat gigi menjadi bukti bahwa kiamat secara harfiah akan terjadi. Persoalannya adalah jejak lingkungan dari produksi dan pembuangan sikat gigi, terutama yang menggunakan plastik dan nilon.

Perubahan iklim sendiri merupakan perubahan jangka panjang pada suhu dan pola cuaca. Aktivitas manusia sejak era industrialisasi, terutama pembakaran bahan bakar fosil dan peningkatan emisi gas rumah kaca, menjadi salah satu pendorong utama perubahan iklim modern.

Sikat gigi berbahan plastik ikut menjadi bagian dari persoalan sampah tersebut.

Dari Bahan Alami Beralih ke Plastik

Sikat gigi pada masa lalu menggunakan berbagai bahan alami. Gagangnya antara lain dapat dibuat dari bambu, kayu, bahkan bahan dari hewan, sementara teknologi pembuatan sikat terus berkembang.

BACA JUGA  Banyaknya Bangunan Tinggi di Sekitar Ka'bah, Apakah Tanda-Tanda Kiamat?

Memasuki era modern, plastik dan nilon kemudian menjadi material yang umum digunakan.

Masalahnya, kedua material tersebut tidak mudah terurai secara alami dalam waktu singkat.

Artinya, ketika sebuah sikat gigi dibuang setelah masa penggunaannya berakhir, benda tersebut tidak langsung menghilang dari lingkungan.

Diganti Setiap Beberapa Bulan

Persoalan semakin besar karena sikat gigi bukan barang yang digunakan seumur hidup.

American Dental Association (ADA) merekomendasikan sikat gigi diganti setiap tiga hingga empat bulan, atau lebih cepat apabila bulu sikat sudah rusak.

Jika kebiasaan tersebut dikalikan dengan jumlah penduduk dunia, jumlah sikat gigi yang berpotensi menjadi sampah setiap tahun tentu sangat besar.

Dengan asumsi sederhana delapan miliar penduduk dunia mengganti sikat gigi tiga kali dalam setahun, jumlahnya dapat mencapai sekitar 24 miliar sikat gigi.

Angka tersebut merupakan ilustrasi berdasarkan asumsi pergantian, bukan jumlah sampah sikat gigi yang terukur secara langsung.

BACA JUGA  Jarang Sikat Gigi Bisa Picu Penyakit Jantung, Benarkah?

Di Amerika Serikat, besarnya persoalan sampah sikat gigi juga pernah menjadi sorotan. Laporan yang dikutip National Geographic menggambarkan volume sikat gigi yang dibuang setiap tahun sebagai jumlah yang sangat besar.

Belum lagi jika memperhitungkan sikat gigi elektrik yang memiliki komponen elektronik dan baterai sehingga pengelolaannya membutuhkan perhatian berbeda.

Bisa Bertahan Ratusan Tahun

Salah satu persoalan utama sikat gigi plastik adalah daya tahannya di lingkungan.

Material plastik dapat membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai, dengan estimasi yang berbeda-beda tergantung jenis material dan kondisi lingkungan.

Sejumlah sumber memperkirakan produk plastik tertentu dapat bertahan selama ratusan tahun.

Selama berada di lingkungan, plastik dapat terfragmentasi menjadi partikel yang lebih kecil dan pada akhirnya berkontribusi terhadap persoalan mikroplastik.

Ketika sampah plastik masuk ke ekosistem laut, dampaknya juga dapat merembet ke organisme laut dan rantai makanan.

BACA JUGA  Dokter: Untuk Kebersihan Menyeluruh, Sikat Gigi Selama Dua Menit

Sampah Kecil, Dampak Besar

Persoalan sikat gigi sebenarnya menggambarkan masalah yang lebih besar: budaya menggunakan produk sekali pakai atau berumur pendek yang dibuat dari material sulit terurai.

Satu sikat gigi mungkin terlihat terlalu kecil untuk memberikan dampak berarti.

Namun ketika jutaan bahkan miliaran benda serupa dibuang secara terus-menerus, volumenya berubah menjadi persoalan lingkungan yang jauh lebih serius.

Karena itu, isu sikat gigi bukan semata-mata soal mengganti produk tertentu, melainkan bagaimana manusia memilih bahan, menggunakan produk secara bertanggung jawab, dan memastikan sampah dikelola dengan benar.

Sikat gigi tetap dibutuhkan untuk menjaga kesehatan gigi. Namun setelah masa pakainya berakhir, persoalannya berpindah: ke mana benda tersebut berakhir dan berapa lama lingkungan harus menanggungnya?

Di situlah benda kecil seperti sikat gigi berubah menjadi gambaran besar tentang tantangan sampah plastik dan krisis lingkungan modern. (Firman/Mun)

TRENDING