EKBIS
Dolar AS Tembus Rp17.600, Rupiah Kembali Tertekan
AKTUALITAS.ID – Mata uang Garuda kembali tak berdaya menghadapi keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan pagi ini, Jumat (11/9/2026), rupiah langsung dibuka melemah dan ambruk hingga menembus level psikologis Rp 17.600-an per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS menguat 0,23% ke posisi Rp 17.587 pada awal perdagangan. Tak butuh waktu lama, mata uang berjuluk Greenback itu terus merangsek naik hingga menyentuh level Rp 17.605 pada pukul 09.12 WIB.
Data serupa dilansir oleh Refinitiv yang mencatat rupiah terdepresiasi 0,23% ke level Rp 17.570/US$, sementara pantauan Reuters menunjukkan posisi rupiah berada di angka Rp 17.580 per dolar AS atau melemah 0,28% dibanding penutupan sebelumnya.
Pelemahan tajam ini tidak terjadi sendirian. Nyaris seluruh mata uang utama di kawasan Asia ikut terseret ke zona merah akibat hantaman eksternal yang begitu kuat. Ringgit Malaysia turun 0,22%, dolar Taiwan melemah 0,24%, peso Filipina merosot 0,19%, dan baht Thailand ikut tertekan 0,08%.
Tekanan masif terhadap mata uang regional dipicu oleh lonjakan yield obligasi pemerintah AS (Treasury) yang mendekati level 5%. Investor kini meningkatkan taruhan bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), akan kembali mengerek suku bunga guna meredam tekanan inflasi yang kian menjadi-jadi.
Situasi pasar semakin diperkeruh oleh krisis energi global. Harga minyak mentah Brent saat ini telah menembus level US$ 100 per barel akibat eskalasi konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Lonjakan harga minyak ini memicu kekhawatiran meluasnya gangguan pasokan, yang berpotensi memaksa bank sentral dunia mempertahankan kebijakan pengetatan moneter dalam waktu lebih lama.
Dengan posisi tukar yang terpuruk di kisaran Rp 17.580 hingga Rp 17.600-an, rupiah tercatat sebagai salah satu mata uang Asia yang mengalami pelemahan cukup dalam sepanjang tahun berjalan. Pergerakan pasar keuangan selanjutnya kini sangat bergantung pada arah kebijakan suku bunga The Fed, rilis data inflasi AS, serta perkembangan panas situasi geopolitik global. (Firman/Mun)

















