Berita
Soal Radioaktif Serpong, IESR Minta Presiden Evaluasi Kinerja Batan dan Bapeten
AKTUALITAS.ID – Eksektutif Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai, munculnya serpihan sumber radioaktif nuklir di Perumahan Batan Indah, Serpong, Tangerang Selatan menandakan lemahnya sistem pengawasan. Karena menyangkut keselamatan publik, Presiden diminta mengevaluasi kinerja dua instansi yang dinilai paling bertanggungjawab, yakni Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten). “Kedua institusi ini yang musti […]
AKTUALITAS.ID – Eksektutif Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai, munculnya serpihan sumber radioaktif nuklir di Perumahan Batan Indah, Serpong, Tangerang Selatan menandakan lemahnya sistem pengawasan.
Karena menyangkut keselamatan publik, Presiden diminta mengevaluasi kinerja dua instansi yang dinilai paling bertanggungjawab, yakni Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten).
“Kedua institusi ini yang musti dicek. Bagaimana prosedurnya, aparaturnya dan mekanismenya. Kemenristek harus membuat tim untuk mengevaluasi ini dan dilaporkan ke Presiden. Sebab ini menyangkut keselamatan publik,” ungkap Direktur Eksektutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa Minggu (16/2/2020).
“Yang musti dilakukan adalah semacam audit terhadap kinerja pengawasan radio aktif yang ada di Indonesia,” tambah Fabby.
Menurut Fabby, hingga saat ini belum ada keterangan prinsip yang disampaikan pihak BATAN dan Bapetan. Dimana justru hadir adalah keterangan yang masih berupa retorika, sehingga masih menuai keresahan.
“Hal yang prinsipil belum ditemukan. Dimana kok sampai di situ? sudah berapa lama? sudah terdampakah? Menurut saya, pernyataan yang disampaikan BATAN justru ada hal yang lebih besar yang coba mungkin ditutup-tutupi. Ini belum apa-apa, belum diselidiki, kemudian kemarin muncul berita ini dari alat instrumentasi. Kok bisa bilang dari alat intsrumentasi, sementara dalam pernyataan lain mereka masih belum tau sumber radio aktif itu ada di sana dan berasal dari mana,” ungkapnya.
Sebelumnya, tim gabungan melakukan pencarian zat radioaktif di lokasi yang banyak penduduk itu. Pencarian dilaksanakan sejak tanggal 7 sampai 8 Februari 2020 lalu.
Disana, mereka menemukan adanya serpihan limbah yang mengandung jenis Cs-137 atau Casium-137. Serpihan itu telah diambil oleh tim peneliti untuk didalami lebih jauh. Saat ini, tim gabungan di lapangan telah melakukan pemetaan ulang. Konkretnya dengan melakukan pengerukan tanah untuk menutupi bekas tempat serpihan limbah nuklir. Hasilnya, paparan radioaktif pun mengalami penurunan.
-
FOTO01/05/2026 17:28 WIBFOTO: Rilis Penipuan Daring dengan Tersangka 16 WNA
-
POLITIK01/05/2026 18:00 WIBGolkar: Usulan Yusril soal Parliamentary Threshold Sudah Digodok Lama
-
NASIONAL01/05/2026 16:00 WIBPrabowo Janji Kredit Rumah Bunga 5%, Buruh Bisa Punya Hunian
-
NASIONAL01/05/2026 06:30 WIBKSAD: Perwira Remaja Harus Beri Layanan Terbaik untuk Negara dan Rakyat
-
DUNIA01/05/2026 19:00 WIBAyatollah Mojtaba Khamenei Sebut AS Kalah Telak di Teluk Persia
-
RAGAM01/05/2026 17:00 WIBBukan Orang PKI, Ini Sosok Asli Penerjemah Lagu Internasionale di Indonesia
-
PAPUA TENGAH01/05/2026 07:00 WIBPolres Mimika Serahkan Berkas Kasus Narkotika Jalur ‘Tempel’ ke Kejaksaan Mimik Tersangka MAP
-
PAPUA TENGAH01/05/2026 16:30 WIBKolaborasi Lintas Lembaga Tekan Angka Pernikahan Siri dan Pastikan Legalitas Keluarga

















