Berita
Update Corona Jatim 16 April: 514 Positif, 92 Sembuh, 46 Meninggal, 1.717 PDP
AKTUALITAS.ID – Sebanyak 15 kasus baru Coronavirus Disease atau Covid-19 terkonfirmasi di Jawa Timur pada Kamis, (16/4/2020). Dengan demikian, total kasus di Jatim sementara ini sebanyak 514 kasus. Dari jumlah itu, 92 pasien terkonversi negatif alias sembuh. Tidak ada penambahan pasien meninggal sehingga tetap di angka 46 orang. Adapun untuk jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) […]
AKTUALITAS.ID – Sebanyak 15 kasus baru Coronavirus Disease atau Covid-19 terkonfirmasi di Jawa Timur pada Kamis, (16/4/2020). Dengan demikian, total kasus di Jatim sementara ini sebanyak 514 kasus. Dari jumlah itu, 92 pasien terkonversi negatif alias sembuh. Tidak ada penambahan pasien meninggal sehingga tetap di angka 46 orang.
Adapun untuk jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) di Jatim ada 1.717 orang, sebanyak 984 orang di antaranya masih diawasi. Sedangkan orang dalam pemantauan (ODP) sebanyak 15.674 orang, dan yang masih dipantau ada 7.496 orang. Tidak ada daerah baru yang berstatus zona merah sehingga yang terpapar Corona masih 35 daerah.
Secara khusus, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan terima kasih kepada tenaga kesehatan yang tetap semangat dan berjibaku menangani pasien Covid-19 dan PDP, sehingga tingkat kesembuhan trennya naik.
“Terimakasih kepada para tim medis semuanya,” katanya di Gedung Negara Grahadi Surabaya pada Kamis malam.
Sementara itu, Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Covid-19 Jatim, Joni Wahyuadi, menuturkan bahwa siapa pun berpotensi terpapar virus yang mula kali ditemukan di Wuhan, Hubei, China, itu. Termasuk tim medis. Apalagi, makin lama Covid-19 kian sulit dideteksi karena gejalanya makin banyak.
Joni menyebut contoh tenaga kesehatan yang terpapar Corona, kebanyakan terpapar dari pasien yang semula tidak diketahui positif Covid-19 karena tidak menunjukkan gejala klinis. “Artinya, orang tanpa gejala itu banyak sekali,” ujarnya.
Karena itu, menurut Joni tidak ada solusi paling mujarab untuk menaklukkan Corona kecuali menerapkan jaga jarak sosial, seperti dianjurkan oleh pemerintah. Menurutnya, sepanjang sejarah pandemi yang pernah terjadi di dunia, jaga jarak adalah obat untuk memutus rantai penularan virus. “Kalau tidak, maka (pandemi) akan lama,” katanya.
-
RIAU18/07/2026 23:00 WIBPanen Raya 50 Hektare di Siak Kecil, Bengkalis Percepat Target Swasembada Pangan
-
DUNIA19/07/2026 12:00 WIBMilisi Irak Umumkan Hadiah Rp179 Miliar untuk Targetkan Trump
-
POLITIK19/07/2026 09:00 WIBPBB Resmi Jadi Garda Terdepan Pemerintahan Prabowo Subianto
-
POLITIK19/07/2026 07:00 WIBPPP Dorong Perempuan Dominasi Parlemen 2029
-
DUNIA19/07/2026 08:00 WIBKeji! Drone Israel Hantam Warga yang Sedang Berduka di Gaza
-
EKBIS19/07/2026 11:00 WIBBahlil: Blok Masela Bisa Hasilkan Rp585 Triliun untuk Negara
-
OASE19/07/2026 05:00 WIBAl Qur’an Bongkar Rahasia Lapisan Bumi
-
POLITIK19/07/2026 06:00 WIBGolkar: Gaji Besar Lebih Baik daripada Banyak Tunjangan

















