Berita
Hujan dan Teguran Langsung dari Allah
Mekanisme alam terjaga dengan proses hujan. Melalui hujan, Allah SWT menurunkan rahmat-Nya kepada seluruh penghuni bumi, termasuk manusia. Rahmat Allah itu luas bentuknya, tak terukur nilainya, dan tak pula bisa diukur dengan logika manusia. Akan tetapi, hujan acapkali justru tak membuat manusia ingat kepada Sang Mahapencipta. Ini pula yang menjadi sebab terjadinya kisah berikut, sebagaimana […]
Mekanisme alam terjaga dengan proses hujan. Melalui hujan, Allah SWT menurunkan rahmat-Nya kepada seluruh penghuni bumi, termasuk manusia. Rahmat Allah itu luas bentuknya, tak terukur nilainya, dan tak pula bisa diukur dengan logika manusia.
Akan tetapi, hujan acapkali justru tak membuat manusia ingat kepada Sang Mahapencipta. Ini pula yang menjadi sebab terjadinya kisah berikut, sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abi Hatim dari Abu Harizah.
Suatu ketika, pasukan Muslimin sedang menjalani ekspedisi Perang Tabuk. Mereka tiba dan beristirahat di suatu daerah. Meskipun gersang, daerah itu memiliki beberapa sumber air.
Namun, Rasulullah SAW memerintahkan mereka agar tidak membawa air dari tempat itu sedikitpun. Mereka mematuhinya dan lantas melanjutkan kembali perjalanan.
Maka sampailah pasukan Muslimin di daerah lain. Sementara itu, bekal sudah menipis. Bahkan, mereka tidak lagi memiliki persediaan air.
Sejumlah sahabat lalu mengadukan keadaan itu kepada Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW lalu melaksanakan shalat dua rakaat. Kemudian, beliau menengadahkan tangannya ke langit, berdoa kepada Allah untuk meminta hujan.
Atas izin Allah Ta’ala, hujan pun turun. Seketika, kaum Muslimin bersyukur dan bersuka cita. Mereka semuanya bisa minum dengan puas.
Seorang laki-laki dari kalangan Anshar lantas berkata kepada seorang di sebelahnya. Orang ini ditengarai diam-diam sebagai munafik.
Kata orang Anshar itu, “Tidakkah engkau melihat? Baru saja Nabi SAW berdoa, Allah lalu menurunkan hujan kepada kita?”
“Tidak!” jawab si munafik itu sambil menunjuk ke langit, “sesungguhnya kita mendapat curahan hujan ini karena pengaruh bintang ini dan itu.”
Maka, turunlah wahyu kepada Nabi SAW. Yakni, surah al-Waaqi’ah ayat 75-82.
Artinya, “Lalu Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Dan sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang besar sekiranya kamu mengetahui, dan (ini) sesungguhnya Al-Qur’an yang sangat mulia, dalam Kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuz), tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan seluruh alam. Apakah kamu mengganggap remah berita ini (Al-Qur’an)? dan kamu menjadikan rezeki yang kamu terima (dari Allah) justru untuk mendustakan(-Nya).”
Ayat yang terakhir itu menjadi teguran langsung dari Allah atas ucapan si munafik tersebut. Wallahu a’lam bish-shawab.
-
RIAU29/07/2026 00:01 WIBPolisi Tahan Tengku Fauzi dalam Dugaan Kasus Korupsi Anggaran Satpol PP
-
RIAU28/07/2026 23:00 WIBBupati Kasmarni Raih Penghargaan pada Milad ke-51 MUI Bengkalis
-
EKBIS28/07/2026 23:25 WIBPRO AVL Indonesia 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan 60 Brand Global dan Peluang Bisnis Industri AVL
-
FOTO29/07/2026 17:00 WIBFOTO: Kampanye Pariwisata Malaysia di Rangkaian KAI Commuter
-
NASIONAL28/07/2026 22:30 WIBMenteri LH Jumhur: Gerakan Tobat Nasional Ekologis Segera Diluncurkan, Libatkan Mahasiswa dan Masyarakat
-
POLITIK29/07/2026 11:00 WIBBawaslu: Ancaman Terbesar Pemilu Kini Bukan Lagi di TPS
-
OLAHRAGA28/07/2026 21:30 WIBChelsea vs AC Milan, Luka Modric dan Cole Palmer Siap Tampil di Stadion GBK
-
NASIONAL29/07/2026 11:45 WIBOperasi Senyap KPK Berujung Penangkapan Bupati Pemalang

















