Berita
Dibanding Negara Lain, Nadiem: Indonesia Telat Buka Sekolah
AKTUALITAS.ID – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengatakan Indonesia termasuk telat membuka sekolah dibanding dengan negara lain di kawasan Asia Tenggara saat pandemi virus corona (Covid-19). Hal itu Nadiem sampaikan merespons kritik atas kebijakannya mengizinkan pembelajaran tatap muka di sekolah yang berada di zona kuning atau risiko rendah dan hijau alias aman Covid-19. […]
AKTUALITAS.ID – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengatakan Indonesia termasuk telat membuka sekolah dibanding dengan negara lain di kawasan Asia Tenggara saat pandemi virus corona (Covid-19).
Hal itu Nadiem sampaikan merespons kritik atas kebijakannya mengizinkan pembelajaran tatap muka di sekolah yang berada di zona kuning atau risiko rendah dan hijau alias aman Covid-19.
“Di satu sisi memang bisa dilihat pilihan yang berani (membuka sekolah di tengah pademi). Tapi di sisi lain, kita juga bisa lihat kita telat. Jika kita lihat negara di Asia Tenggara, kita negara terakhir kedua yang membuka kembali sekolah,” kata Nadiem melalui konferensi video dalam diskusi berbahasa Inggris, Rabu (12/8/2020).
Ia menyatakan keputusan membuka sekolah di zona kuning dan hijau Covid-19 diambil dengan pertimbangan matang. Sekolah baru bisa dibuka, katanya, jika pemerintah daerah dan komite sekolah mengizinkan.
Selain itu, para orang tua atau wali murid juga boleh tak mengizinkan anaknya belajar tatap muka meskipun sekolahnya telah dibuka.
Pendiri Go-Jek itu pun memastikan pembelajaran tatap muka dilakukan dengan berbagai pembatasan. Seperti pemangkasan jumlah siswa hingga 50 persen kapasitas, penutupan kantin, hingga pelarangan aktivitas ekstrakurikuler.
“Bahkan di zona hijau yang kita umumkan dua bulan lalu, hanya 25 persen sekolah yang akhirnya memutuskan pembelajaran tatap muka,” ujarnya.
Nadiem mengatakan kebanyakan kota besar di Indonesia juga belum melakukan pembelajaran tatap muka di sekolah. Ia menilai keputusannya dalam membuka sekolah kembali di tengah pandemi virus corona merupakan langkah yang konservatif
Lebih lanjut, Nadiem khawatir muncul dampak negatif dari pembelajaran jarak jauh (PJJ) terhadap pendidikan Indonesia. Oleh karena itu, ia mengambil kebijakan membuka sekolah meskipun kasus Covid-19 masih terus bertambah.
Menurut Nadiem, dari kasus yang dialami negara lain di masa lalu, banyak studi menemukan dampak signifikan ketika siswa tidak dapat bersekolah tatap muka dalam waktu yang panjang.
Ia menyebut para siswa bisa terkena dampak psikologis, mulai dari stres, kesepian sampai ketegangan dengan orang tua dan keluarga. Untuk itu, Nadiem menilai siswa harus secepatnya kembali ke sekolah dengan menerapkan protokol kesehatan ketat.
Nadiem memahami kebijakannya menuai banyak kritik. Ia mengakui keputusannya itu berisiko di sisi keamanan dan kesehatan warga sekolah. Menurutnya, kritik akan selalu datang dari setiap kebijakan yang diambil.
“Ketika kami memutuskan PJJ, begitu banyak kritik dari siswa dan orang tua yang tidak mampu membeli kuota. Mereka bilang tolong biarkan kami ke sekolah sesekali. Selalu akan ada dua opini dalam hal ini,” katanya.
Sebelumnya kritik terhadap kebijakan Nadiem membuka sekolah di zona hijau berdatangan dari guru dan organisasi pendidikan. Mereka khawatir pembukaan sekolah akan menjadi klaster baru penyebaran virus corona.
-
JABODETABEK16/04/2026 20:30 WIBOperasi Tangkap Ikan Sapu-sapu di Phb Setu Babakan Digelar
-
RIAU16/04/2026 20:45 WIBCegah Karhutla, Kapolres Rokan Hulu Turun Langsung Sosialisasi ke Desa
-
RIAU16/04/2026 21:30 WIBKader NasDem Riau Gelar Aksi Damai, Protes Cover Majalah Tempo
-
JABODETABEK16/04/2026 22:30 WIBPenonaktifan Sementara 16 Mahasiswa FHUI Bukan Sanksi Akhir
-
DUNIA16/04/2026 21:00 WIBPos Pemeriksaan Militer Dibangun Pasukan Israel di Bethlehem
-
NUSANTARA16/04/2026 23:30 WIBSaat Patroli, Tim Gabungan Kontak Tembak dengan KKB di Yahukimo
-
NASIONAL16/04/2026 21:45 WIBST Burhanuddin Raih KWP Award 2026, Kejaksaan Dinilai Aktif Jaga Aset Negara
-
OLAHRAGA16/04/2026 22:00 WIBKetua Umum PBTI: Sinergitas dan Kolaborasi Jadi Kunci Pencapaian Target Taekwondo Indonesia.

















