Berita
Diduga Korupsi, Raja Salman Pecat Komandan Tinggi Militer
Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud memecat komandan tinggi militer Saudi dan putranya atas tuduhan korupsi. Komandan pasukan gabungan koalisi yang dipimpin Saudi Pangeran Fahad bin Turki dan wakil emir wilayah Al-Jouf Abdulaziz bin Fahad dipecat, mereka saat ini sedang diperiksa dalam kasus korupsi. Media pemerintah Saudi melaporkan beberapa perwira lain dan pegawai […]
Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud memecat komandan tinggi militer Saudi dan putranya atas tuduhan korupsi.
Komandan pasukan gabungan koalisi yang dipimpin Saudi Pangeran Fahad bin Turki dan wakil emir wilayah Al-Jouf Abdulaziz bin Fahad dipecat, mereka saat ini sedang diperiksa dalam kasus korupsi.
Media pemerintah Saudi melaporkan beberapa perwira lain dan pegawai sipil di Kementerian Pertahanan juga diperiksa karena terlibat korupsi.
Seperti dikutip dari AFP, Pangeran Fahad menjabat sebagai komandan koalisi militer pimpinan Saudi yang memerangi pemberontak Houthi di Yaman.
Dia digantikan oleh Mutlaq bin Salim, wakil kepala staf, atas rekomendasi dari penguasa de facto kerajaan, Putra Mahkota Mohammed bin Salman.
Analis Saudi Ali Shihabi mengatakan keputusan pemerintah untuk memecat komandan menjadi sinyal kuat adanya korupsi di militer.
Pengumuman tersebut menandai tindakan keras pemerintah terhadap gerakan memberantas korupsi yang sudah mewabah di lingkungan kerajaan.
Bulan lalu pemerintah memecat sejumlah pejabat karena terlibat korupsi di proyek-proyek pariwisata. Komandan senior keamanan termasuk salah satu yang dipecat.
Pada Maret lalu 298 pejabat Saudi ditangkap, termasuk petinggi militer dan peradilan. Mereka dituduh terlibat penyuapan dan penggelapan senilai total 379 juta riyal.
Badan pengawas mengatakan penangkapan itu terjadi setelah pihak berwenang menyelidiki 674 pegawai negara, tetapi tidak menyebutkan nama tersangka atau menyatakan kapan penyelidikannya dilakukan.
Human Rights Watch mengaku khawatir terhadap kemungkinan proses hukum yang tidak adil serta sistem peradilan yang tak transparan.
Kampanye anti korupsi yang diluncurkan pada 2017 menyebabkan ratusan pangeran, menteri dan pengusaha ditahan di hotel mewah Ritz-Carlton di ibu kota Riyadh.
Mereka ditahan di sana selama berminggu-minggu dan sebagian besar dibebaskan setelah menyetujui penyelesaian dengan membayar sejumlah uang. Pihak berwenang mengaku mendapatkan lebih dari 400 miliar riyal Saudi.
-
RIAU28/06/2026 01:10 WIBReplika Wisma Sri Mahkota Jadi Magnet Stand Bengkalis di MTQ Riau 2026
-
RIAU28/06/2026 11:59 WIBBupati Kasmarni Serahkan Piala Bergilir MTQ Riau, Target Bengkalis Rebut Kembali Gelar Juara
-
OASE28/06/2026 05:00 WIBRasulullah Teladan Akhlak Terbaik
-
NASIONAL28/06/2026 00:33 WIBKemhan Klaim Program SPPI Sudah Sesuai Prosedur
-
NUSANTARA27/06/2026 23:00 WIBTerbesar se-Indonesia, Herman Deru Tetap Minta ABPEDNAS Sumsel Perkuat Pengawasan Desa
-
DUNIA28/06/2026 15:00 WIBBaru Teken Damai, Langit Lebanon Dibom Israel
-
RAGAM28/06/2026 11:30 WIBStudi Lama Ungkap Dugaan Hajar Aswad Berasal dari Meteorit
-
RIAU28/06/2026 16:20 WIBPolda Riau Rampungkan 110 Jembatan Merah Putih Presisi

















