DUNIA
Tegas! Pejabat Hizbullah Sebut Iran Poros Utama Perlawanan Terhadap Israel
AKTUALITAS.ID – Kelompok Hizbullah menyebut Iran sebagai penghalang utama rencana “Israel Raya” yang diklaim ingin diwujudkan oleh Israel. Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Dewan Eksekutif Hizbullah, Ali Damoush, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Mengutip laporan kantor berita Islamic Republic News Agency (IRNA), Damoush menilai Iran menjadi satu-satunya negara yang tetap konsisten dalam poros perlawanan terhadap Israel. Ia menyebut permusuhan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran berakar pada karakter Islam dan revolusioner Republik Islam tersebut.
Menurut Damoush, potensi agresi militer terhadap Teheran lebih banyak melayani kepentingan Israel dibandingkan kepentingan Washington. Ia juga menuding Tel Aviv berupaya menggagalkan proses negosiasi antara Teheran dan Washington dengan menciptakan berbagai dalih yang dapat memicu konflik baru di kawasan.
Pernyataan itu menyoroti dinamika geopolitik kompleks di Timur Tengah. Hizbullah memandang bahwa keberadaan Iran dan sekutu-sekutunya di kawasan menjadi faktor penting dalam menghambat ekspansi pengaruh Israel. Dalam pandangan kelompok tersebut, untuk mewujudkan proyek “Israel Raya”, Israel perlu melemahkan atau menyingkirkan Iran dan jaringan sekutunya.
Damoush juga menegaskan bahwa perlawanan selama tiga dekade terakhir menjadi sumber kekuatan dan daya tangkal Lebanon terhadap Israel. Ia menyebut perlawanan bukan sekadar strategi militer, tetapi bagian dari identitas dan kedaulatan nasional Lebanon.
Lebih lanjut, Damoush menegaskan bahwa rakyat Iran dan Lebanon tidak akan meninggalkan perlawanan yang dianggap sebagai hak sah mereka. Ia menyatakan, pengorbanan yang telah dilakukan selama ini menjadi simbol martabat dan kebanggaan yang tidak dapat dihapus oleh pihak mana pun.
Pernyataan Hizbullah tersebut menambah daftar panjang retorika politik dan ketegangan regional yang terus berkembang. Situasi ini menunjukkan bahwa hubungan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat masih berada dalam fase sensitif dengan risiko eskalasi yang tetap tinggi di kawasan Timur Tengah. (Mun)
-
NASIONAL20/08/2026 10:00 WIBErna Sari Dewi Bongkar Rantai Lemah Keselamatan Kapal
-
NASIONAL20/08/2026 13:00 WIBDPR Desak Kemenkeu Cairkan Rp290 M untuk Atasi Karhutla Kalimantan
-
EKBIS20/08/2026 11:30 WIBHarga Emas Antam Meledak Rp80 Ribu
-
DUNIA20/08/2026 12:00 WIBTrump Ancam Isolasi Total Negara yang Bantu Iran
-
NUSANTARA20/08/2026 12:30 WIBGuru SD di Takalar Ditangkap Usai Rekam Mahasiswi
-
NASIONAL20/08/2026 11:00 WIBDana Haji RI Rp66 Miliar Dibekukan Arab Saudi
-
EKBIS20/08/2026 10:30 WIBRupiah Perkasa di Rp17.794
-
DUNIA20/08/2026 15:00 WIBIsrael Akui Tank Tembak Mobil Hind Rajab

















