Connect with us

DUNIA

Iran-AS Saling Sikut Rebutan Selat Hormuz

Aktualitas.id -

AKTUALITAS.ID – Ketegangan di Selat Hormuz kembali memanas. Meski Amerika Serikat dan Iran telah menandatangani kesepakatan perdamaian, perang urat saraf antara kedua negara justru semakin terbuka di jalur pelayaran paling strategis di dunia tersebut.

Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) secara tegas menyatakan bahwa keamanan pelayaran di Selat Hormuz hanya dapat dijamin melalui jalur yang disetujui oleh Teheran. Pesan itu dibaca banyak pihak sebagai sinyal bahwa Iran masih ingin menunjukkan dominasinya atas pintu keluar masuk energi dunia.

IRGC bahkan memperingatkan seluruh kapal yang melintas agar berkoordinasi langsung dengan Angkatan Laut Iran melalui Channel 16. Setiap rute pelayaran yang diumumkan tanpa persetujuan Republik Islam disebut sebagai tindakan berbahaya dan tidak dapat diterima.

Peringatan tersebut langsung memicu perhatian internasional. Pasalnya, Selat Hormuz merupakan jalur vital yang menjadi urat nadi perdagangan minyak global. Sebelum konflik pecah, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintas setiap hari melalui kawasan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut.

Namun di saat Iran mengklaim masih memegang kendali, Amerika Serikat justru melontarkan pernyataan yang berseberangan.

Menteri Energi AS Chris Wright menegaskan Teheran sudah kehilangan kemampuan untuk menutup Selat Hormuz. Menurutnya, kehadiran militer dan pengawalan Angkatan Laut AS telah menghapus senjata strategis utama yang selama ini digunakan Iran untuk menekan dunia internasional.

“Kemampuan Iran mengancam lalu lintas pelayaran sudah tidak lagi efektif,” tegas Wright dalam konferensi di New York.

Washington mengklaim pengawalan armada laut AS berhasil memastikan kapal-kapal dagang tetap melintas aman melalui perairan sekitar Oman meski Iran sebelumnya mengumumkan penutupan jalur tersebut.

Data yang dipaparkan AS menunjukkan sebanyak 72 kapal tanker yang membawa sekitar 19 juta barel minyak berhasil melewati Selat Hormuz hanya dalam waktu 24 jam terakhir. Angka tersebut menjadi bukti bahwa jalur energi global mulai kembali bergerak normal setelah sempat terguncang oleh konflik.

Meski demikian, ancaman belum benar-benar berakhir.

Pemerintahan Donald Trump secara terbuka mengingatkan bahwa blokade laut terhadap Iran bisa kembali diberlakukan jika Teheran dianggap melanggar kesepakatan yang telah dicapai.

Pesan Washington terdengar jelas: perdamaian memang sedang berjalan, tetapi tekanan terhadap Iran tetap berada di atas meja.

Situasi ini membuat masa depan Selat Hormuz masih dipenuhi tanda tanya. Di satu sisi Iran tetap ingin mempertahankan pengaruhnya atas jalur strategis tersebut. Di sisi lain, Amerika Serikat berupaya menunjukkan bahwa keamanan pelayaran kini berada di bawah payung kekuatan militernya.

Pertarungan narasi itu menjadi sangat penting karena setiap gejolak di Hormuz selalu berdampak langsung terhadap harga minyak dunia, biaya logistik global, hingga stabilitas ekonomi internasional.

Untuk sementara, kapal-kapal memang kembali melintas. Namun di balik lalu lintas yang tampak normal, persaingan pengaruh antara Washington dan Teheran masih berlangsung sengit.

Hormuz mungkin telah dibuka kembali, tetapi perebutan kendali atas salah satu jalur energi terpenting di planet ini tampaknya baru saja memasuki babak baru. (Mun)

Continue Reading

TRENDING