DUNIA
Bahaya! Amunisi Andalan AS Terkuras di Tengah Perang Iran
AKTUALITAS.ID – Amerika Serikat dilaporkan mulai menghadapi tekanan serius dalam menjaga pasokan amunisi pertahanan udara berteknologi tinggi di tengah eskalasi konflik melawan Iran. Sejumlah analis menilai stok rudal pencegat andalan Washington kini menyusut signifikan setelah berbulan-bulan digunakan untuk menghadapi ancaman rudal dan drone di kawasan Timur Tengah.
Analis senior Timur Tengah dari RANE Network, Ryan Bohl, menyebut sistem pertahanan udara kelas atas seperti Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) menjadi salah satu persenjataan yang paling terdampak.
“Persediaannya sangat menipis, dan kita tahu dari berbagai laporan bahwa banyak perencana Pentagon sangat khawatir mengenai pasokan tersebut ke depan,” kata Bohl kepada Al Jazeera.
Menurutnya, Amerika Serikat masih memiliki persediaan bom konvensional dalam jumlah besar. Namun, penggunaan bom tersebut tetap bergantung pada kemampuan pesawat tempur menembus sistem pertahanan udara Iran yang dinilai masih menjadi ancaman serius.
Bohl menyinggung laporan mengenai jatuhnya sebuah pesawat tempur F-15 serta klaim bahwa sebuah F-35 terkena serangan sistem pertahanan udara Iran. Menurutnya, kondisi itu membuat Washington harus berhitung lebih matang sebelum meningkatkan operasi udara yang berisiko tinggi.
Situasi tersebut diperkuat oleh analisis Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang menyebut Amerika Serikat telah menghabiskan sekitar sepertiga stok rudal Patriot dan sekitar setengah stok rudal pencegat THAAD sejak konflik kembali meningkat pada Februari lalu.
Sebelum perang, AS diperkirakan memiliki sekitar 2.330 rudal Patriot. Kini jumlahnya diperkirakan tinggal 759 hingga 827 unit. Sementara stok rudal THAAD yang sebelumnya sekitar 452 unit, kini diperkirakan tersisa 234 hingga 278 unit.
CSIS memperingatkan bahwa apabila konflik kembali meningkat dalam skala besar, stok rudal pencegat yang semakin terbatas dapat menjadi tantangan bagi Amerika Serikat dan negara-negara mitranya.
Menurut lembaga tersebut, keterbatasan persediaan dapat memaksa Washington mengambil keputusan operasional dengan tingkat risiko yang lebih tinggi dalam menghadapi serangan rudal maupun drone.
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah serangan terhadap pasukan AS di Yordania. Sebagai respons, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan operasi militer yang dimulai pada Rabu (29/7) pukul 20.00 waktu setempat.
CENTCOM menyatakan operasi tersebut merupakan respons terhadap serangan yang ditujukan kepada personel militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Di tengah meningkatnya intensitas konflik, kemampuan kedua pihak dalam menjaga rantai pasokan persenjataan diperkirakan akan menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi dinamika perang ke depan. (Mun)
-
NASIONAL31/07/2026 09:00 WIBEddy Soeparno Dorong Ketahanan Energi Nasional
-
RIAU30/07/2026 14:00 WIBEkspedisi Merah Putih Presisi Polda Riau Siap Melayani Masyarakat hingga Pulau Terluar
-
NUSANTARA30/07/2026 13:40 WIBPolisi Tetapkan Anggota DPRD Medan Tersangka Pengeroyokan
-
NASIONAL30/07/2026 15:00 WIBPrabowo Resmi Naikkan Tukin Prajurit TNI dan Pegawai Kemhan
-
JABODETABEK31/07/2026 08:30 WIBPengendara Vario Tewas Usai Tabrakan Adu Banteng
-
DUNIA31/07/2026 09:30 WIBIHSG Dibuka Hijau Investor Mulai Borong
-
POLITIK31/07/2026 06:00 WIBPengamat Minta Publik Tak Terlalu Reaktif Survei Dedi Salip Prabowo
-
NUSANTARA30/07/2026 14:30 WIBPakar Hukum: Daluwarsa Harus Jadi Pertimbangan Utama Majelis Hakim dalam Perkara Lahan Transmigrasi Kukar

















