Connect with us

DUNIA

Data Rahasia 41.000 Pasukan Keamanan Trump Jebol

Aktualitas.id -

AKTUALITAS.ID – Sistem pertahanan siber Amerika Serikat kebobolan telak. Identitas dan data sensitif lebih dari 41.000 pegawai Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS), termasuk ribuan personel kunci Badan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE), bocor dan dipublikasikan secara vulgar ke internet pada Rabu (28/10/2026).

Aksi pembobolan masif ini didalangi oleh kelompok aktivis peretas bernama Department of Peace, dan disebarkan oleh organisasi nirlaba pembocor informasi Distributed Denial of Secrets (DDoSecrets). Para peretas menggunakan sistem pelacak khusus bernama Icepick, sebuah alat yang memungkinkan siapa saja mencari data pegawai DHS secara spesifik berdasarkan nama, lokasi kantor, hingga detail penugasan mereka.

Dampak kebocoran data ini diprediksi sangat fatal. Salah satu pendiri DDoSecrets, Emma Best, menyebut insiden ini sebagai sesuatu yang “luar biasa”. Pasalnya, data tersebut secara terang-terangan menguliti identitas para agen federal yang bertanggung jawab mengawasi operasi penyamaran tingkat tinggi, pejabat pemburu whistleblower, hingga para eksekutor kunci dalam program deportasi massal Presiden Donald Trump.

BACA JUGA  Aksi Mahasiswa Karena Propaganda Media Sosial

“Dataset ini sangat raksasa, baik dari segi ukuran maupun dampaknya. Ini memberikan gambaran yang belum pernah terjadi sebelumnya tentang struktur internal DHS, menyoroti siapa yang sebenarnya melakukan pekerjaan kotor di berbagai lembaga,” tegas aktivis Maia Arson Crimew.

Skandal kebocoran ini menjadi tamparan keras bagi pemerintahan Trump yang tengah mengobarkan operasi agresif penindakan imigran tanpa dokumen. Berdasarkan laporan Lembaga Kebijakan Migrasi, mesin deportasi DHS dan ICE telah mengusir sekitar 980.000 orang hanya dalam 18 bulan pertama masa jabatan kedua Trump, jauh melampaui rekor era Joe Biden.

Kini, ribuan aparat federal yang terbiasa menggerebek dan memburu imigran di berbagai ‘kota suaka’ terpaksa menelan pil pahit. Identitas pribadi mereka kini menjadi konsumsi publik, membuka celah ancaman keamanan serius bagi para agen penyamaran di lapangan. (Mun)

BACA JUGA  Bawaslu Minta Jajaran Manfaatkan Siber untuk Edukasi Demokrasi

TRENDING