EKBIS
IHSG Pagi Ini Menguat 0,15% Meski Tekanan Eksternal dan Paradoks Likuiditas Domestik
AKTUALITAS.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat tipis pada perdagangan Selasa (18/11/2025) pagi, namun sebelumnya sempat merosot ke zona merah. Pada pukul 09.03 WIB IHSG naik 12,23 poin atau 0,15% ke level 8.429,11, dengan komposisi perdagangan pagi tercatat 208 saham naik, 225 saham turun, dan 523 saham stagnan.
Nilai transaksi pagi ini mencapai Rp1,2 triliun, melibatkan 2,55 miliar saham dalam 164.500 kali transaksi. Aktivitas perdagangan yang padat mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar yang masih menimbang sentimen eksternal dan kondisi fundamental domestik.
Sentimen eksternal menekan pasar Asia pagi ini akibat meningkatnya ketegangan antara China dan Jepang. Indeks acuan utama di wilayah tersebut mencatat penurunan: Nikkei 225 turun 0,92%, Topix turun 0,6%, Kospi turun 0,64%, dan Kosdaq turun 0,58%. Kontrak berjangka Hang Seng juga lebih rendah dibanding penutupan terakhir, sementara indeks Australia S&P/ASX 200 turun 0,76%. Dampak dari regional risk-off ini memaksa investor melepas sebagian posisi berisiko sehingga IHSG sempat tertahan di zona merah sebelum kembali reli tipis di pembukaan.
Dari sisi domestik, pasar juga mencermati dinamika ekonomi yang menunjukkan ketidaksesuaian antara kelimpahan likuiditas di sistem keuangan dan kondisi sektor riil, fenomena yang disebut “Paradoks Likuiditas”. Meskipun indikator makro terlihat solid — termasuk penurunan utang luar negeri dan likuiditas perbankan yang tinggi — tekanan mikro mencakup perlambatan konsumsi, kehati-hatian korporasi untuk berekspansi, dan langkah pemerintah memperketat kebijakan fiskal. Kombinasi faktor ini membuat aliran dana belum optimal mendorong pertumbuhan riil, sehingga investor tetap selektif memilih sektor dan saham.
Dengan kombinasi sentimen eksternal yang menahan pasar Asia dan ketidakpastian domestik, analis memperkirakan volatilitas IHSG tetap ada dalam jangka pendek. Investor disarankan memantau rilis data ekonomi selanjutnya, pernyataan pembuat kebijakan, serta perkembangan geopolitik regional sebagai indikator risiko pasar. (Firmansyah/Mun)
-
DUNIA02/05/2026 12:00 WIBSenator AS Ungkap Trump Rancang Serangan ke Iran
-
RIAU02/05/2026 16:00 WIBSindikat Narkoba Lintas Negara Dibekuk di Meranti, Polda Riau Sita 27 Kg Sabu
-
PAPUA TENGAH02/05/2026 16:30 WIBYan Mandenas dan Kapolda PPT Pantau Pendistribusian dan Cek Kesiapan Stok Beras di Bulog KC Timika
-
EKBIS02/05/2026 17:30 WIBBeri Dampak Sosial-Ekonomi, Danantara Evaluasi Beragam Peluang
-
JABODETABEK02/05/2026 05:30 WIBCuaca Hari Ini: Jakarta Berawan dan Hujan Bergantian
-
NASIONAL02/05/2026 06:00 WIBDPR: Negara Tak Berhak Tentukan Aktivis HAM
-
POLITIK02/05/2026 10:00 WIBPKS: Usulan Yusril Soal Threshold Masuk Akal
-
NASIONAL02/05/2026 18:00 WIBKPAI Minta Proses Hukum Pelaku Kekerasan Seksual di Pesantren Ciawi