EKBIS
Dolar AS Mengamuk, Rupiah Terkapar di Posisi Rp17.310
AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan dan menembus level psikologis baru pada perdagangan Kamis, (23/4/2026). Mata uang Garuda bahkan sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS, menandai posisi terlemah sepanjang masa secara intraday.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah tercatat melemah hingga 0,79% ke level Rp17.305 per dolar AS pada pukul 09.32 WIB. Bahkan beberapa menit kemudian, rupiah terus tertekan hingga menyentuh Rp17.310 per dolar AS.
Pelemahan ini melanjutkan tren negatif sejak pembukaan perdagangan. Pada awal sesi, rupiah sudah dibuka melemah 108 poin atau 0,63% ke posisi Rp17.289 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.181 per dolar AS.
Mengacu data Bloomberg, rupiah sempat berada di kisaran Rp17.249 per dolar AS atau melemah 0,40%. Sementara menurut Yahoo Finance, rupiah juga masih tertekan di level Rp17.174 per dolar AS, menunjukkan tekanan konsisten sejak pagi.
Secara keseluruhan, rupiah menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia pada hari ini. Hampir seluruh mata uang Asia juga berada di zona merah, dengan peso Filipina, baht Thailand, dan ringgit Malaysia ikut mengalami depresiasi.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuabi menilai pelemahan rupiah telah melampaui ekspektasi pasar. Ia bahkan memproyeksikan rupiah berpotensi menembus level Rp17.400 per dolar AS dalam waktu dekat.
“Kemungkinan besar akhir April atau minggu depan bisa tembus Rp17.400 per dolar AS,” ujarnya.
Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh penguatan indeks dolar AS yang naik ke level 98,59, mencerminkan tingginya permintaan terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian global.
Selain itu, lonjakan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memperburuk sentimen pasar. Kondisi ini mendorong arus keluar dana asing (capital outflow) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Pelaku pasar kini mencermati sejumlah faktor eksternal, termasuk rilis data ekonomi Amerika Serikat serta potensi kebijakan lanjutan dari bank sentral global.
Analis mengingatkan bahwa volatilitas rupiah masih akan tinggi dalam jangka pendek. Investor dan pelaku usaha, terutama yang memiliki eksposur terhadap valuta asing, diminta untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan strategi lindung nilai (hedging) guna meminimalkan risiko. (Firmansyah/Mun)
-
POLITIK13/09/2026 16:00 WIBNama Misbakhun Muncul di Pusaran Cukai Palsu
-
Berita13/09/2026 23:00 WIBPolres Metro Jakarta Pusat Ungkap Peredaran 5,2 Kilogram Sabu di Cengkareng
-
DUNIA14/09/2026 00:00 WIBHouthi Kuasai Bab al-Mandeb, Dunia Panik
-
DUNIA13/09/2026 21:00 WIBPresiden Iran Siap Lawan AS-Israel
-
NASIONAL13/09/2026 17:00 WIBWaka DPR: MBG Bukan Bikin Masyarakat Cemas
-
JABODETABEK13/09/2026 20:00 WIBBibir Robek! Pemotor Wanita Mengaku Dipukul Ojol Usai Tabrakan di Depok
-
EKBIS13/09/2026 19:00 WIBPerbedaan Angka Kemiskinan Indonesia Versi BPS dan Bank Dunia
-
JABODETABEK13/09/2026 22:00 WIBAnak Tengah Pembunuh Sekeluarga Divonis Seumur Hidup

















