Connect with us

EKBIS

Mata Uang Garuda Jeblok ke Rp17.859 per USD

Aktualitas.id -

Ilustrasi rupiah melemah, dok: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah kembali memulai perdagangan di zona merah. Pada Selasa (23/6/2026), mata uang Garuda dibuka melemah 16 poin atau 0,09 persen ke level Rp17.859 per dolar Amerika Serikat (AS), memperpanjang tren pelemahan yang masih membayangi pasar keuangan domestik.

Data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB menunjukkan rupiah langsung kehilangan tenaga sejak pembukaan perdagangan. Hingga pukul 09.42 WIB, posisinya masih bertahan di kisaran Rp17.859 per dolar AS, lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.843 per dolar AS.

Meski pelemahannya terlihat tipis, posisi rupiah yang terus bergerak mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap mata uang domestik belum benar-benar mereda.

Berbeda dengan Bloomberg, data Yahoo Finance mencatat rupiah berada di level Rp17.814 per dolar AS pada waktu yang sama. Perbedaan tersebut merupakan hal yang lazim karena adanya perbedaan sumber data dan waktu pencatatan di pasar valuta asing.

Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia yang masih beragam. Sentimen global masih didominasi oleh ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama, sehingga mendorong penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang emerging markets.

Di kawasan Asia, peso Filipina menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam setelah turun sekitar 0,37 persen, sementara ringgit Malaysia justru tampil sebagai yang terkuat dengan kenaikan sekitar 0,31 persen. Rupiah sendiri masih berada di kelompok mata uang yang tertekan bersama won Korea Selatan, baht Thailand, dan dolar Taiwan.

Pelemahan rupiah juga memperpanjang tren negatif setelah sehari sebelumnya ditutup turun 39 poin ke level Rp17.843 per dolar AS. Kondisi tersebut menunjukkan pelaku pasar masih memilih bersikap hati-hati di tengah ketidakpastian ekonomi global, meningkatnya tensi geopolitik, serta arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Sepanjang 2026, kinerja rupiah masih berada dalam tekanan. Mata uang Garuda tercatat telah melemah sekitar 6,72 persen dibandingkan posisi akhir tahun lalu. Kondisi itu menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang Asia yang mengalami depresiasi cukup besar, meski belum sedalam pelemahan won Korea Selatan.

Pelaku pasar kini menanti arah kebijakan lanjutan dari Bank Indonesia serta perkembangan ekonomi global. Jika tekanan dolar AS terus berlanjut dan arus modal asing keluar dari pasar negara berkembang meningkat, ruang penguatan rupiah diperkirakan masih akan terbatas dalam jangka pendek. (Firman/Mun)

TRENDING