EKBIS
Rupiah Nyaris Jebol Rp18.000 per Dolar
AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Jumat (26/6/2026). Mata uang Garuda dibuka melemah dan nyaris menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), memicu perhatian pelaku pasar terhadap arah pergerakan kurs dalam jangka pendek.
Berdasarkan data Bloomberg, hingga Jumat pagi rupiah terdepresiasi 48 poin atau 0,27 persen ke posisi Rp17.991 per dolar AS. Level tersebut menjadi salah satu posisi terlemah rupiah dalam beberapa waktu terakhir dan hanya terpaut tipis dari ambang Rp18.000.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan pergerakan yang sedikit berbeda. Pada waktu yang sama, rupiah berada di kisaran Rp17.937 per dolar AS, mencerminkan adanya perbedaan metode pencatatan antarpenyedia data pasar.
Tekanan terhadap rupiah terjadi seiring menguatnya indeks dolar AS (DXY) yang naik ke kisaran 101,53, menandakan mata uang Negeri Paman Sam kembali menguat terhadap sejumlah mata uang utama dunia.
Penguatan dolar dipicu meningkatnya kekhawatiran investor setelah Amerika Serikat merilis data inflasi tahunan sebesar 4,1 persen, level tertinggi sejak April 2023. Data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS, The Fed, kemungkinan belum akan terburu-buru menurunkan suku bunga acuannya.
Sentimen tersebut langsung membebani mayoritas mata uang Asia. Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam, disusul baht Thailand, dolar Singapura, yuan China, yen Jepang, serta rupiah yang ikut berada dalam tekanan.
Meski demikian, tidak semua mata uang kawasan bergerak negatif. Ringgit Malaysia, peso Filipina, dan dolar Taiwan masih mampu mencatatkan penguatan terhadap dolar AS pada perdagangan pagi.
Di pasar global, mata uang Eropa bergerak bervariasi. Euro menguat tipis terhadap dolar AS, sementara franc Swiss, krona Swedia, dan krona Denmark justru melemah. Pound sterling cenderung bergerak stabil.
Pelaku pasar kini mencermati arah kebijakan The Fed sebagai faktor utama yang akan menentukan pergerakan dolar AS dalam beberapa waktu ke depan. Selama ekspektasi suku bunga tinggi masih bertahan, tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, berpotensi tetap berlanjut.
Pergerakan rupiah selanjutnya diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan data ekonomi global, arus modal asing, serta respons pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat dalam beberapa pekan mendatang. (Firman/Mun)
-
NASIONAL25/06/2026 17:44 WIBKasus YTR, PPP Minta Negara Hadir Berikan Pendampingan Maksimal
-
NASIONAL25/06/2026 16:16 WIBBahlil Buka Kartu! Ada 120 Sumur Minyak Baru, RI Siap Kurangi Impor BBM
-
NASIONAL25/06/2026 16:47 WIBHarga Pertamax Diprediksi Turun per 1 Juli 2026
-
POLITIK25/06/2026 17:00 WIBDemokrat 10 Tahun Oposisi Tanpa Main Mata dengan Kekuasaan
-
POLITIK25/06/2026 14:00 WIBPengamat SDI: UU Perampasan Aset Jawab Kerinduan Rakyat
-
RAGAM25/06/2026 16:00 WIBTidur Dekat HP Jadi Kebiasaan Buruk Generasi Digital
-
OLAHRAGA26/06/2026 04:30 WIBUruguay vs Spanyol: Duel Hidup Mati Menuju Babak 32 Besar
-
NASIONAL25/06/2026 21:00 WIBKasus Korupsi PPT Energy Trading, KPK Panggil Mantan Direktur Pelabuhan