NASIONAL
Wakil Ketua MPR: Percepatan Transisi Energi Penting untuk Mengurangi Impor
AKTUALITAS.ID – Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, menegaskan pentingnya percepatan transisi energi sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor energi sekaligus menghemat devisa negara. Dalam paparannya di Conference on Indonesian Foreign Policy (CIFP) 2025 di Jakarta, Eddy menyebut kondisi Indonesia saat ini sebagai energi paradoks.
Indonesia memiliki cadangan energi fosil yang sangat besar, termasuk minyak, gas, dan batu bara. Bahkan, produksi batu bara nasional diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan hingga 200 tahun. Di sisi lain, potensi energi terbarukan juga melimpah, mulai dari tenaga surya sebesar 3.300 gigawatt hingga energi angin, air, arus laut, dan panas bumi. Namun, meski memiliki sumber daya melimpah, Indonesia masih harus mengimpor energi dalam jumlah besar.
“Hari ini kita impor 1 juta barel minyak mentah per hari. Dengan harga sekitar 70 dolar AS per barel, berarti 70 juta dolar per hari kita keluarkan untuk impor BBM,” ujar Eddy.
Selain minyak mentah, Indonesia juga masih mengimpor LPG, minyak tanah, dan solar. Kondisi ini menurut Eddy menjadi salah satu masalah terbesar yang dihadapi sektor energi nasional. Ia menekankan bahwa solusi terbaik adalah mengoptimalkan pemanfaatan energi terbarukan.
“Dengan mengoptimalkan energi terbarukan, kita bisa mengurangi impor, menghemat devisa, dan menghasilkan energi yang bersih dan hijau,” tegasnya.
Eddy juga menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah berulang kali menegaskan komitmen percepatan pengembangan energi terbarukan, yang dituangkan dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN). Meski demikian, ia mengingatkan bahwa transisi energi menghadapi tantangan, seperti rendahnya capacity factor pembangkit tenaga surya yang hanya berkisar 25–30 persen, serta mahalnya biaya baterai skala besar untuk PLTS.
Menurut Eddy, percepatan transisi energi semakin mendesak untuk menekan emisi karbon, terutama dari pembangkit berbahan bakar batu bara dan diesel yang masih menyumbang sekitar 60 persen kapasitas pembangkitan nasional.
Acara CIFP 2025 turut dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Ketua Umum Kadin Anindya Novyan Bakrie, Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) Mada Ayu Habsari, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Yusra Khan, FCPI Climate Fellow Adhityani Putri, serta Chief Experiment Officer Think Policy Andhyta Firselly Utami. (Mun)
-
RIAU05/12/2025 17:00 WIBPolda Riau Kirim Bantuan Gelombang Keempat untuk Penanganan Bencana di Sumatera, 3.459 Alat Kerja dikirim ke Aceh dan Sumbar
-
JABODETABEK05/12/2025 07:00 WIBDitlantas Polda Metro Jaya Siapkan Layanan SIM Keliling di Lima Lokasi Jakarta
-
NASIONAL05/12/2025 11:00 WIBKalla Siap Layani Gugatan Baru GMTD di Kasus Sengketa Lahan
-
JABODETABEK05/12/2025 10:30 WIBHingga Kamis Malam Sejumlah Lokasi di Jakarta Utara Masih Terendam Banjir Rob
-
NUSANTARA05/12/2025 07:30 WIBTerungkap Motif Komplotan Begal Remaja di Indramayu
-
OASE05/12/2025 05:00 WIBHukum Memetik Buah yang Pohonnya Menjulur dari Rumah Tetangga
-
POLITIK05/12/2025 09:00 WIBImbas Bencana di Sumatera Komisi IV DPR Bentuk Panja Alih Fungsi Lahan
-
JABODETABEK05/12/2025 05:30 WIBWapadai Hujan Lebat di Bogor dan Hujan Ringan di Jakarta

















