Connect with us

NASIONAL

SDI: Indonesia Emas Bukan Sekadar Angka

Aktualitas.id -

AKTUALITAS.ID – Menjelang genap satu abad Sumpah Pemuda, Swarna Dwipa Institute (SDI) menggelar Dialog Nasional bertajuk “Menuju 1 Abad Sumpah Pemuda – Pemikiran, Semangat dan Implementasi Menuju Indonesia Emas” di Gedung Museum Sumpah Pemuda, Jalan Kramat Raya 106, Jakarta, Sabtu (31/10/2026).

Forum yang mempertemukan tokoh bangsa, akademisi, aktivis, dan penyelenggara negara itu menjadi ruang refleksi sekaligus panggilan kebangsaan untuk memastikan Indonesia Emas 2045 tidak hanya menjadi slogan pembangunan, tetapi benar-benar menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

Dialog menghadirkan Wakil Menteri Hak Asasi Manusia Mugiyanto Sipin, akademisi Frans Magnis-Suseno, Warsito Ellwein dari Agenda 45, Ulung Rusman dari Perhimpunan INTI, pengamat SDI Febby Lintang, serta anggota Komisi III DPR RI sekaligus Ketua Umum BM-PAN Slamet Ariyadi. Acara dipandu moderator Ajeng T. Andi.

Dalam sambutannya, Founder SDI Frans Immanuel Saragih menegaskan bahwa Swarna Dwipa Institute hadir sebagai rumah besar bagi aktivis dan pemikir dari berbagai elemen bangsa untuk bersama-sama merumuskan gagasan strategis demi masa depan Indonesia.

BACA JUGA  Dari Kwitang, SDI Himpun Tokoh Penting Demi Indonesia Emas

“SDI selalu terbuka kepada siapa saja yang ingin memberikan pemikirannya terhadap kemajuan Indonesia, terutama dalam menuju Indonesia Emas,” ujarnya.

Menurut Frans, semangat Indonesia Emas tidak boleh berhenti pada target pertumbuhan ekonomi, angka investasi, atau capaian makro pembangunan semata. Indonesia Emas harus dimaknai sebagai hadirnya negara yang menghargai martabat manusia, melindungi kelompok rentan, dan menjamin kesejahteraan yang merata.

“Indonesia Emas harus menjadi cita-cita bersama untuk membangun bangsa yang memuliakan manusia, menghadirkan keadilan sosial, melindungi kelompok rentan, dan memastikan kesejahteraan dapat dirasakan seluruh rakyat,” tegasnya.

Dalam forum tersebut, para pembicara bersepakat bahwa nilai luhur Sumpah Pemuda harus diterjemahkan dalam tindakan nyata. Persatuan tidak boleh hanya menjadi simbol sejarah yang dikenang setiap tahun, tetapi harus hadir dalam kebijakan negara dan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Para narasumber juga mengingatkan bahwa pembangunan nasional akan kehilangan makna apabila masih menyisakan ketimpangan sosial, diskriminasi, korupsi, serta akses yang tidak merata terhadap pendidikan, pekerjaan, dan layanan publik.

BACA JUGA  Wamen HAM Mugiyanto Tegaskan HAM Harga Mati Menuju Indonesia Emas 2045

Salah satu pesan kuat yang mengemuka dalam diskusi adalah bahwa Indonesia Emas 2045 harus berdiri di atas fondasi penghormatan terhadap HAM, keadilan sosial, integritas pemerintahan, serta pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

SDI merumuskan enam pokok agenda strategis yang dianggap penting untuk memperkuat perjalanan menuju Indonesia Emas.

Pertama, memperkuat persatuan nasional melalui toleransi, gotong royong, dan penghormatan terhadap keberagaman.

Kedua, menempatkan hak asasi manusia dan martabat kemanusiaan sebagai fondasi utama pembangunan bangsa.

Ketiga, memastikan keadilan sosial benar-benar dirasakan masyarakat melalui pemerataan kesejahteraan, pendidikan, kesempatan kerja, dan layanan dasar.

Keempat, menjadikan pemberantasan korupsi serta penguatan integritas sebagai agenda mendasar bagi tata kelola negara yang sehat.

Kelima, mendorong pembangunan yang inklusif dengan memberi ruang yang sama bagi perempuan, anak-anak, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan, tanpa mengabaikan aspek keberlanjutan lingkungan.

BACA JUGA  Pengamat SDI: 2 Minggu Manuver Prabowo Bikin Dunia Melirik Indonesia

Keenam, menguatkan peran generasi muda sebagai motor perubahan melalui pendidikan, kreativitas, karakter, kemandirian, dan keberanian menyampaikan gagasan.

Frans menegaskan keenam agenda itu tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Menurutnya, persatuan tanpa keadilan hanya akan menjadi slogan, sementara pertumbuhan ekonomi tanpa pemerataan tidak akan menghasilkan kesejahteraan yang sesungguhnya.

“Semangat persatuan perlu diwujudkan dalam kebijakan yang adil, tindakan yang nyata, serta keberpihakan kepada kepentingan seluruh rakyat,” katanya.

Dialog nasional kemudian ditutup dengan pembacaan ikrar Sumpah Pemuda bersama. Momen tersebut menjadi simbol bahwa Indonesia dibangun dari keberanian untuk menyatukan perbedaan demi cita-cita yang sama.

Dari Museum Sumpah Pemuda, pesan yang mengemuka begitu jelas: Indonesia Emas 2045 bukan sekadar tentang menjadi negara maju, melainkan tentang mewujudkan bangsa yang adil, bersatu, inklusif, berintegritas, dan mampu memuliakan setiap warganya tanpa terkecuali. (Mun)

TRENDING