Connect with us

NUSANTARA

BMKG: Salju Abadi Papua di Ujung Tanduk

Aktualitas.id -

Ilustrasi salju abadi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Indonesia menghadapi ancaman serius dari krisis iklim global. Lapisan es abadi di Puncak Jaya, Papua, yang menjadi satu-satunya gletser tropis di Indonesia, kini berada di ambang kepunahan dan diperkirakan bisa lenyap dalam beberapa tahun ke depan.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa dua gletser terakhir di kawasan tersebut – Gletser Carstensz dan East Northwall – Firncberpotensi hilang paling lambat pada periode 2026 hingga 2027 akibat pemanasan global dan dampak kuat fenomena El Niño.

Peneliti iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Donaldi Permana, menyebut kondisi tersebut sudah memasuki fase kritis.

Ia menjelaskan bahwa dalam beberapa dekade terakhir, kawasan Puncak Jaya telah kehilangan sekitar 97 persen lapisan esnya, menyisakan gletser yang kini terus menyusut dengan cepat.

“Pemanasan menyebabkan lebih banyak presipitasi turun sebagai hujan daripada salju, sehingga mempercepat pencairan es,” ujar Permana.

Puncak Jaya, gunung tertinggi di Asia Tenggara, selama ini dikenal sebagai rumah bagi gletser tropis terakhir di kawasan Asia. Namun, perubahan iklim global membuat keberadaan es di wilayah tersebut semakin tidak stabil.

Data penelitian menunjukkan, dari enam gletser yang pernah ada, kini hanya tersisa dua. Luas totalnya pun menyusut drastis dari sekitar 19,3 kilometer persegi pada tahun 1850 menjadi hanya sekitar 0,16–0,23 kilometer persegi pada periode terbaru.

Artinya, lapisan es yang dulu setara ribuan lapangan sepak bola kini tersisa sangat kecil dan terus menyusut setiap tahun.

Menurut model iklim terbaru, kombinasi kenaikan suhu global dan meningkatnya intensitas El Niño menjadi faktor utama percepatan pencairan.

Dalam skenario terburuk, gletser Papua diperkirakan tidak lagi bertahan melewati akhir dekade ini, bahkan bisa hilang lebih cepat jika gelombang panas kembali meningkat pada 2026–2027.

Dampaknya tidak hanya bersifat ekologis, tetapi juga menyentuh aspek budaya masyarakat Papua. Bagi sejumlah komunitas adat, puncak bersalju di Papua memiliki nilai spiritual yang sangat penting dan menjadi bagian dari identitas leluhur.

Peneliti keberlanjutan Wewin Wira Cornelis Wahid menyebut hilangnya salju abadi berarti hilangnya salah satu warisan budaya yang tidak tergantikan.

Sementara itu, geolog dari Lamont-Doherty Earth Observatory Lamont-Doherty Earth Observatory, Mike Kaplan, menyebut gletser tropis sebagai “peringatan dini” perubahan iklim global.

Ia menegaskan bahwa bahkan jika emisi gas rumah kaca dihentikan saat ini, sistem iklim bumi masih akan terus mengalami penyesuaian yang dapat meningkatkan suhu dalam beberapa tahun ke depan.

Kondisi ini membuat peluang bertahannya gletser Papua semakin kecil dan memperkuat kekhawatiran bahwa Indonesia bisa segera kehilangan satu-satunya salju abadinya. (Ahmad/Mun)

TRENDING