Connect with us

RAGAM

Pedagang Kecil Terancam Bangkrut

Aktualitas.id -

Ilustrasi foto: Meta AI

AKTUALITAS.ID – Ledakan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang selama ini dipuji sebagai mesin pertumbuhan ekonomi global kini mulai menunjukkan sisi gelapnya. Krisis pasokan chip memori telah memicu lonjakan harga komponen elektronik, mengerek harga berbagai produk mulai dari HP, laptop, tablet, konsol game hingga perangkat rumah tangga.

Dampaknya bukan hanya dirasakan perusahaan kecil. Raksasa teknologi seperti Apple dan Microsoft pun akhirnya mengakui tekanan biaya produksi yang semakin berat. Apple bahkan mulai menyesuaikan harga sejumlah produk MacBook dan iPad setelah harga komponen mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Namun jika perusahaan bernilai triliunan dolar saja mulai kewalahan, pelaku usaha kecil menghadapi ancaman yang jauh lebih berat.

Fenomena itu dialami Mono Technologies, perusahaan rintisan yang baru berdiri pada 2024. Setelah berhasil menjual sekitar 1.000 unit router premium dan mengantongi lebih dari 1.300 pemesanan berikutnya, perusahaan tersebut mendadak dihantam lonjakan harga chip memori.

BACA JUGA  PKB: AI Solusi Cerdas untuk Pengembangan UMKM di Daerah

Harga modul DRAM 8 GB dari Micron yang sebelumnya hanya sekitar US$35 melonjak drastis menjadi sekitar US$300 per unit. Kenaikan hampir sembilan kali lipat tersebut membuat seluruh perhitungan biaya produksi berubah total.

Pendiri Mono Technologies, Tomaz Zaman, kini berada di persimpangan sulit. Ia harus memilih menaikkan harga produk hingga lebih dari sepertiga, memangkas spesifikasi perangkat, atau bahkan menunda produksi karena biaya yang sudah tidak masuk akal.

“Kualitas produk akan turun drastis jika kami memaksakan harga jual tetap kompetitif,” ujarnya.

Ledakan permintaan chip untuk kebutuhan AI membuat produsen semikonduktor memprioritaskan pasokan kepada perusahaan-perusahaan besar yang mengembangkan pusat data dan sistem AI berperforma tinggi. Akibatnya, produksi chip memori untuk perangkat elektronik konvensional ikut tertekan dan pasokannya semakin langka.

BACA JUGA  FOTO: Penulis Satupena Tinjau Galeri Lukisan Denny JA

Kondisi tersebut menciptakan tekanan besar bagi produsen elektronik berskala kecil yang selama ini hidup dengan margin keuntungan tipis. Mereka tidak memiliki daya tawar tinggi dalam rantai pasok maupun kemampuan menyerap lonjakan biaya produksi seperti perusahaan raksasa.

Produsen kamera aksi GoPro bahkan memperingatkan bahwa lonjakan biaya memori sebesar 80 hingga 115 persen berpotensi mengganggu kelangsungan usahanya. Sementara itu, tekanan biaya komponen ikut membebani kinerja Sonos sehingga saham perusahaan tersebut mengalami penurunan sepanjang tahun ini.

Analis IDC, Nabila Popal, menyebut kondisi tersebut sebagai “krisis eksistensial yang nyata” bagi produsen ponsel Android berskala kecil maupun perusahaan lokal yang memproduksi perangkat elektronik murah.

Menurutnya, pemasok chip kini lebih memilih melayani pelanggan besar yang mampu membeli dalam jumlah sangat besar, sementara pemain kecil semakin sulit memperoleh pasokan.

BACA JUGA  Ancaman Google AI: Ribuan Pekerja Jurnalis Terancam PHK Massal

Jika kondisi ini terus berlangsung, bukan hanya produsen yang terdampak. Pedagang elektronik, distributor hingga toko-toko kecil berpotensi menghadapi tekanan berat akibat harga barang yang terus naik, stok yang semakin terbatas, serta daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

Di tengah inflasi dan perlambatan ekonomi global, kombinasi kenaikan harga, kelangkaan pasokan, dan dominasi perusahaan besar berpotensi menjadi tantangan serius bagi ekosistem industri elektronik. Apabila rantai pasok belum kembali stabil, pelaku usaha kecil menjadi kelompok yang paling rentan menghadapi tekanan tersebut. (Firman/Mun)

TRENDING