NASIONAL
KPK Dalami Korupsi Program Gizi Bayi dan Ibu Hamil
AKTUALITAS.ID – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengakui adanya kendala serius dalam upaya pengusutan kasus dugaan korupsi pengadaan makanan tambahan untuk bayi dan ibu hamil. Hambatan utama yang dihadapi KPK adalah kesulitan dalam menemukan sampling atau contoh dari makanan tambahan tersebut untuk pengujian lebih lanjut.
Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, menjelaskan bahwa proses pencarian sampel ini memakan waktu cukup lama. “Ya ini sudah lama betul. Kami yang sekarang sedang didalami atau sedang kami cari itu adalah sampling,” ungkap Asep kepada awak media di Gedung KPK, Jakarta Selatan, pada Sabtu (14/3/2026).
Menurut Asep, sampel makanan tambahan sangat krusial untuk dilakukan pengujian laboratorium. Pengujian ini bertujuan untuk membuktikan letak ketidaksesuaian pada kandungan nutrisi makanan yang diduga diselewengkan.
“Karena itu akan dilakukan uji sampel dari makanan tambahannya itu. Sampel makanan tambahannya itu yang sedang kita cari. Ini sering juga saya sampaikan, ada barangnya sudah lama. Kita sedang cari di apa namanya, di perusahaan-perusahaan,” terang Asep.
Ia menambahkan, KPK memerlukan hasil lab yang valid sebagai bagian dari “scientific investigation”. Hasil ini akan memverifikasi apakah klaim kekurangan nutrisi sesuai dengan kondisi barang yang sebenarnya. “Itu yang agak kami kesulitan,” katanya.
Sebagai informasi, KPK tengah melakukan penyelidikan mendalam terhadap pengadaan makanan tambahan yang seharusnya berfungsi memberikan nutrisi penting bagi ibu hamil dan anak-anak yang mengalami stunting di Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Dugaan korupsi ini terjadi pada periode 2016 hingga 2020.
Makanan tambahan untuk bayi yang seharusnya berupa biskuit bernutrisi tinggi, justru dikurangi kandungannya. “Pada kenyataannya biskuit ini nutrisinya dikurangi. Jadi lebih banyak gula dan tepungnya,” jelas Pelaksana Tugas Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur Rahayu, pada Rabu (6/8/2025) di Jakarta.
Selain itu, premiks, yaitu campuran vitamin, mineral, dan bahan tambahan esensial lainnya, juga dikurangi. Hal ini tidak hanya menurunkan kualitas gizi biskuit, tetapi juga berdampak pada harga yang menjadi lebih murah.
“Sehingga itu juga, selain menurunkan kualitas gizi dari biskuit, itu juga berpengaruh terhadap harga. Jadi harganya menjadi lebih murah,” tambahnya.
Akibat pengurangan nutrisi ini, program yang seharusnya mengatasi stunting menjadi sia-sia. “Itu tidak ada pengaruhnya bagi perkembangan anak dan ibu hamil, sehingga yang stunting tetap stunting. Ibu hamil juga rentan terhadap penyakit,” tegas Asep.
KPK mengindikasikan bahwa kasus ini akan segera naik ke tahap penyidikan. “Ini mungkin sebentar lagi kita juga akan ambil keputusan untuk dinaikkan (penyidikan),” tutupnya. Penyelidikan kasus ini telah dimulai sejak awal 2024, namun rincian lebih lanjut masih belum dibuka ke publik karena kasus ini masih dalam tahap penyelidikan. (Firmansyah/Mun)
-
RAGAM14/06/2026 15:30 WIBDokter Ungkap Batas Aman Makan Mi Instan
-
POLITIK14/06/2026 18:00 WIBPartai Gelora Siapkan Strategi Baru untuk Pemilu 2029
-
NUSANTARA14/06/2026 18:30 WIBDedi Mulyadi Gratiskan Sekolah Swasta bagi Puluhan Ribu Siswa di Jawa Barat
-
NASIONAL14/06/2026 16:00 WIBAkan Bongkar Semua Pihak dalam Korupsi MBG, Kuasa Hukum Sony Sonjaya Optimistis JC Dikabulkan
-
NUSANTARA14/06/2026 16:30 WIBKasus Pertalite 25 Liter di Medan, Hakim Sebut Curigai Ada “Request”
-
OTOTEK14/06/2026 21:00 WIBWaze Hadirkan Fitur Lampu Merah Saingi Google Maps
-
RAGAM15/06/2026 12:00 WIBBBM Baru B50 Siap Diterapkan 1 Juli
-
OTOTEK14/06/2026 17:00 WIBMenkomdigi Minta Generasi Muda Jadi Garda Terdepan Lawan Kejahatan Digital
















