EKBIS
IHSG Dari Hijau ke Merah dalam Hitungan Menit
AKTUALITAS.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pergerakan tajam pada perdagangan Kamis, (23/4/2026). Setelah sempat dibuka menguat di zona hijau, IHSG berbalik arah dan anjlok ke level 7.400-an hanya dalam waktu kurang dari dua jam perdagangan.
Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG sempat naik 22,8 poin atau 0,30% ke posisi 7.564,41. Penguatan ini bahkan masih bertahan hingga beberapa menit awal, dengan indeks tercatat di level 7.555.
Namun, tren positif tersebut tidak berlangsung lama. Dalam waktu satu jam, IHSG justru tertekan hingga turun 52,19 poin atau 0,69% ke level 7.489,42. Bahkan pada pukul 10.15 WIB, koreksi semakin dalam menjadi 87,85 poin atau 1,16% ke kisaran 7.400-an.
Pergerakan IHSG sepanjang pagi ini berada di rentang 7.429,05 hingga 7.582,5, mencerminkan volatilitas tinggi di pasar saham domestik.
Dari sisi transaksi, aktivitas perdagangan tergolong tinggi. Nilai transaksi mencapai Rp7,3 triliun dengan volume 20,77 miliar saham dalam lebih dari 1,23 juta kali transaksi. Sementara itu, kapitalisasi pasar turun menjadi Rp13.292 triliun.
Secara sektoral, tekanan terbesar datang dari sektor utilitas yang anjlok hingga 4,14%, diikuti sektor energi yang turun 1,62%.
Saham-saham milik konglomerat Prajogo Pangestu menjadi pemberat utama IHSG. Saham BREN tercatat turun lebih dari 6% dan menyumbang penurunan indeks sebesar 11,07 poin. Sementara DSSA melemah 5,58% dengan kontribusi negatif 10,58 poin terhadap IHSG.
Selain itu, saham komoditas seperti AMMN, BRMS, dan BYAN juga ikut menekan pergerakan indeks.
Meski IHSG melemah, sejumlah saham justru mencatatkan kinerja impresif. Tercatat ada saham yang melonjak lebih dari 21% dan bahkan mencapai batas auto rejection atas (ARA).
Analis menilai, pergerakan IHSG yang berbalik arah ini dipicu oleh aksi ambil untung (profit taking) jangka pendek setelah reli sebelumnya.
Di sisi lain, sentimen global turut membebani pasar. Lonjakan harga minyak dunia akibat ketegangan di Selat Hormuz serta penguatan indeks dolar AS memicu kekhawatiran arus keluar dana asing dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Harga minyak Brent tercatat melonjak hingga di atas US$100 per barel, sementara indeks dolar AS naik ke level tertinggi dalam hampir dua pekan terakhir. Kondisi ini berpotensi menekan nilai tukar rupiah dan memperburuk sentimen di pasar saham.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global.
Sementara itu, bursa global justru menunjukkan kinerja positif, dengan Wall Street, Jepang, dan Korea Selatan mencetak rekor tertinggi. Namun, sentimen tersebut belum mampu menopang IHSG yang masih dibayangi tekanan eksternal dan aksi jual investor.
Pelaku pasar disarankan untuk tetap waspada terhadap volatilitas tinggi dan mencermati level support IHSG dalam jangka pendek, terutama di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut. (Firmansyah/Mun)
-
NASIONAL28/07/2026 10:00 WIBKomdigi Pasang Badan Usai Prabowo Dihujani Kritik soal ‘Londo Ireng’
-
EKBIS28/07/2026 11:30 WIBEmas Antam Jeblok Rp9.000 per Gram
-
POLITIK28/07/2026 13:00 WIBBawaslu Catat 409 Tim Mahasiswa Siap Bongkar Masalah Pemilu
-
POLITIK28/07/2026 11:00 WIBEmpat Keputusan PKS Bikin Peta Politik Memanas
-
EKBIS28/07/2026 09:30 WIBIHSG Merah di Awal Perdagangan
-
JABODETABEK28/07/2026 08:30 WIBPolda Metro Gulung 8 Tersangka Sindikat Buzzer Hoaks
-
NASIONAL28/07/2026 06:00 WIBPengamat sebut Prabowo Tak Sedang Serang Wartawan atau LSM
-
OASE28/07/2026 05:00 WIBEmpat Larangan Seksualitas dalam Al-Qur’an, Apa Saja?

















