DUNIA
Pentagon Akui Ongkos Perang Iran Bengkak Gila-gilaan
AKTUALITAS.ID – Perang Amerika Serikat melawan Iran makin menguras isi kas Pentagon. Biaya konflik yang awalnya diperkirakan “hanya” US$25 miliar kini melonjak tajam menjadi US$29 miliar atau setara Rp506 triliun. Lonjakan fantastis ini memicu kekhawatiran soal stok senjata Amerika dan masa depan perang yang belum jelas ujungnya.
Kementerian Pertahanan Amerika Serikat mengungkap biaya perang melawan Iran kini membengkak hingga mencapai US$29 miliar atau sekitar Rp506 triliun.
Angka tersebut naik drastis dari estimasi awal sebesar US$25 miliar atau sekitar Rp436 triliun.
Pengawas Keuangan Pentagon Jay Hurst menyampaikan angka terbaru itu dalam rapat bersama parlemen di Kongres AS pada Selasa (12/5/2026).
Menurut Hurst, biaya tambahan tersebut digunakan untuk mengganti amunisi yang habis, memperbaiki peralatan militer, hingga membiayai operasional pasukan Amerika di kawasan konflik.
“Di rapat sebelumnya jumlahnya 25 miliar dolar, tetapi tim staf gabungan terus meninjau perkiraan tersebut dan sekarang kami pikir jumlahnya mendekati 29 miliar dolar,” ujar Hurst.
“Itu untuk biaya perbaikan dan penggantian peralatan dan juga biaya operasional umum untuk menjaga agar personel tetap berada di pangkalan,” lanjutnya.
Lonjakan biaya perang ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran anggota parlemen AS terkait dampak konflik berkepanjangan terhadap anggaran negara dan persediaan senjata militer Amerika.
Dalam rapat tersebut, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga dicecar pertanyaan mengenai kondisi stok amunisi Amerika Serikat.
Namun Hegseth membantah klaim bahwa AS mengalami krisis persediaan senjata akibat perang melawan Iran.
“Saya tak setuju bahwa amunisi menipis. Itu tak benar,” tegas Hegseth.
Meski demikian, ia mengakui pemerintahan Donald Trump saat ini tengah mendorong peningkatan produksi senjata untuk menjaga kesiapan militer AS.
Tak hanya soal biaya dan senjata, Pentagon juga mengisyaratkan telah menyiapkan berbagai skenario jika konflik kembali memanas, termasuk kemungkinan penarikan pasukan.
“Kami punya rencana untuk melakukan penundaan jika perlu. Kami punya rencana memindahkan aset-aset,” kata Hegseth.
Perang besar antara AS dan Iran pecah sejak 28 Februari lalu ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran.
Teheran kemudian membalas dengan menggempur target-target Israel dan aset militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Setelah pertempuran sengit selama berminggu-minggu, kedua pihak akhirnya menyepakati gencatan senjata pada 8 April yang kemudian diperpanjang tanpa batas waktu jelas.
Kini Amerika Serikat, Iran, dan Pakistan sebagai mediator terus berupaya membuka jalur negosiasi demi mencapai gencatan senjata permanen.
Namun hingga saat ini, pembicaraan masih menemui jalan buntu akibat tajamnya perbedaan antara Washington dan Teheran, terutama terkait program nuklir Iran. (Mun)
-
RIAU30/06/2026 20:45 WIBMTQ Riau 2026, Kafilah Bengkalis Raih Dua Gelar Juara Sekaligus
-
NUSANTARA30/06/2026 13:30 WIBJangan Nekat! Jalur Pendakian Merapi Masih Ditutup Total
-
FOTO30/06/2026 19:30 WIBFOTO: Dukungan Terdakwa Nadiem Makarim dari Driver Gojek
-
POLITIK30/06/2026 16:00 WIBPengamat: Rivalitas Jokowi dan PDIP Kian Terbuka Jelang 2029
-
FOTO30/06/2026 20:20 WIBFOTO: Ketum PP Diperiksa KPK Terkait TPPU Pertambangan
-
POLITIK30/06/2026 17:15 WIBSafari Politik Jokowi Dinilai Langkah Taktis untuk Besarkan PSI
-
EKBIS30/06/2026 17:40 WIBLaba Naik 41 Persen, Dwi Shri Farmindo Tbk Tahan Dividen Demi Ekspansi Bisnis
-
FOTO30/06/2026 21:23 WIBFOTO: KPK Periksa Mantan Menpora Ario Bimo

















