Connect with us

DUNIA

Menlu Iran: Pentagon Bohong Soal Biaya Perang

Aktualitas.id -

Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi. (Xinhua)

AKTUALITAS.ID – Ketegangan di Timur Tengah kian memanas, tak hanya di medan tempur, tetapi juga dalam perang informasi. Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Abbas Araghchi, melontarkan tudingan keras kepada Amerika Serikat (AS). Ia secara blak-blakan menyebut Negeri Paman Sam telah membohongi publik dan meremehkan fakta terkait total biaya yang dihabiskan selama perang sejak 28 Februari lalu.

Menurut Araghchi, AS sengaja memutarbalikkan fakta untuk menyembunyikan beban keuangan negara yang kini semakin mencekik.

Mengutip cuitan resminya di platform X pada Jumat (1/5/2026), Araghchi dengan tegas membongkar kebohongan data dari pihak AS.

“Pentagon bohong. Pertaruhan [Perdana Menteri Israel Benjamin] Netanyahu telah merugikan Amerika Serikat secara langsung sebesar US$100 miliar (sekitar Rp1.733 triliun) sejauh ini, empat kali lipat dari angka yang diklaim,” tulis Araghchi.

Pernyataan ini merupakan pukulan telak atas klaim pejabat Pentagon, Jules Hurst. Sebelumnya, Hurst mengatakan bahwa Operasi Epic Furry—sandi militer AS untuk perang di Iran—”hanya” menghabiskan biaya sekitar US$25 miliar atau Rp433 triliun. Namun, klaim Pentagon ini memang diragukan oleh banyak pakar keamanan yang meyakini biaya asli yang dihabiskan AS jauh melebihi angka resmi tersebut.

Tak hanya merugikan anggaran militer, Araghchi juga menyoroti dampak mengerikan perang ini bagi warga sipil Amerika. Biaya tak langsung yang harus ditanggung oleh para wajib pajak di AS dilaporkan meroket tajam.

“Tagihan bulanan setiap rumah tangga Amerika adalah US$500 dan terus meningkat dengan cepat,” ungkap Araghchi.

Lebih lanjut, ia memberikan kritik pedas terhadap kebijakan luar negeri AS yang rela mengorbankan kesejahteraan rakyatnya sendiri demi membela kepentingan sekutunya. “Israel yang utama selalu berarti Amerika yang terakhir,” sindirnya tajam.

Eskalasi konflik berdarah ini disinyalir bermula dari operasi brutal gabungan antara AS dan Israel yang menggempur Iran habis-habisan. Beberapa laporan intelijen dan media menyebutkan bahwa keputusan gegabah ini diambil usai Presiden AS Donald Trump termakan bujuk rayu Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Akibat konflik yang tak kunjung usai ini, pihak Pentagon bahkan kebingungan menyusun rencana masa depan. Jules Hurst mengakui bahwa perbaikan infrastruktur dan konstruksi jangka panjang AS masih belum menemui titik terang.

“Kita tak tahu bagaimana posisi kita di masa depan, atau bagaimana pembangunan pangkalan-pangkalan itu di masa mendatang,” tutur Hurst, dikutip dari Anadolu Agency.

Rugi bandar yang dialami AS tampaknya sejalan dengan perlawanan sengit dari Teheran. Usai AS dan Israel menggempur wilayahnya, di hari yang sama, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) langsung melancarkan serangan balasan yang menghantam pangkalan militer dan aset logistik AS di negara-negara Teluk.

Tak berhenti sampai di situ, dalam beberapa insiden pertempuran, militer Iran mengklaim berhasil menembak jatuh jet-jet tempur bernilai fantastis milik AS, yang pastinya semakin menambah daftar panjang kerugian finansial pihak Washington. (Mun)

TRENDING