Connect with us

RAGAM

NASA Ungkap Perilaku Aneh Megatsunami

Aktualitas.id -

Ilustrasi tsunami, foto: Meta AI

AKTUALITAS.ID – Sebuah megatsunami dahsyat yang dipicu gempa berkekuatan magnitudo 8,8 di lepas pantai Semenanjung Kamchatka, Rusia, kini membuka babak baru dalam dunia ilmu pengetahuan. Untuk pertama kalinya, satelit milik NASA berhasil merekam fenomena tersebut dalam resolusi tinggi, mengungkap perilaku tsunami yang berbeda dari teori yang selama ini diyakini para ilmuwan.

Data spektakuler itu diperoleh melalui satelit Surface Water Ocean Topography (SWOT), yang menangkap pergerakan gelombang raksasa saat menjalar melintasi Samudra Pasifik setelah gempa besar pada 29 Juli 2025.

Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah The Seismic Record menyebut pengamatan ini sebagai pencapaian penting karena memberikan gambaran paling rinci yang pernah diperoleh mengenai tsunami besar akibat gempa di zona subduksi.

BACA JUGA  NASA Temukan Air di Luar Angkasa, Tanda Kehidupan Alien?

Yang paling mengejutkan, tsunami ternyata tidak bergerak sebagai satu gelombang sederhana sebagaimana diperkirakan selama puluhan tahun. Data SWOT memperlihatkan gelombang menyebar, terpecah, saling berinteraksi, dan mengalami perubahan bentuk di area yang sangat luas selama melintasi samudra.

Temuan tersebut berpotensi mengubah cara ilmuwan memahami dinamika tsunami sekaligus meningkatkan akurasi sistem peringatan dini di masa depan. Negara-negara yang berada di kawasan rawan tsunami, termasuk Indonesia, dinilai dapat memperoleh manfaat dari pemahaman baru ini dalam memperkuat mitigasi bencana.

Gempa pemicu megatsunami itu terjadi di zona subduksi Kuril-Kamchatka, salah satu kawasan paling aktif secara tektonik di dunia. Dengan magnitudo 8,8, gempa tersebut tercatat sebagai salah satu gempa terbesar yang pernah direkam sejak awal abad ke-20.

BACA JUGA  Viral Matahari Terbit dari Barat, Ini Kata NASA!

Dalam penelitian ini, ilmuwan menggabungkan data satelit SWOT dengan jaringan buoy DART (Deep-ocean Assessment and Reporting of Tsunamis) yang tersebar di berbagai wilayah Samudra Pasifik. Kombinasi kedua teknologi tersebut memungkinkan pengamatan gelombang tsunami dengan tingkat detail yang belum pernah dicapai sebelumnya.

Penulis utama penelitian dari University of Iceland, Angel Ruiz-Angulo, menyebut satelit SWOT memberikan perspektif baru dalam mengamati tsunami.

“Saya menganggap data SWOT seperti sepasang kacamata baru,” ujarnya.

Menurut Ruiz-Angulo, sebelumnya para peneliti hanya dapat memantau tsunami dari titik-titik tertentu menggunakan buoy DART atau melalui lintasan sempit satelit generasi sebelumnya. Kini, SWOT mampu memotret area permukaan laut hingga sekitar 120 kilometer lebarnya dengan resolusi tinggi, sehingga pola penyebaran tsunami dapat diamati jauh lebih lengkap.

BACA JUGA  NASA Uji Hidup di “Mars Dune Alpha”, Empat Relawan Jalani Simulasi 378 Hari

Salah satu temuan paling penting dari penelitian tersebut berkaitan dengan fenomena dispersi gelombang. Selama ini tsunami besar dianggap sebagai gelombang non-dispersif yang mempertahankan bentuknya saat menempuh ribuan kilometer. Namun, data terbaru menunjukkan gelombang tsunami dapat berubah, menyebar, dan berinteraksi jauh lebih kompleks dibandingkan asumsi yang selama ini digunakan dalam berbagai model ilmiah.

Penemuan tersebut diharapkan menjadi dasar pengembangan model prediksi tsunami generasi berikutnya yang lebih akurat sehingga mampu meningkatkan kecepatan dan ketepatan sistem peringatan dini bagi masyarakat pesisir di berbagai belahan dunia. (Kusuma/Mun)

TRENDING