DUNIA
Intelijen Bocor; Arab Saudi Terancam Serangan Houthi & IRGC
AKTUALITAS.ID – Arab Saudi kembali berada dalam bayang-bayang ancaman keamanan. Laporan intelijen yang diterima Riyadh disebut mengindikasikan adanya persiapan serangan terhadap wilayah kerajaan oleh sejumlah kelompok bersenjata yang memiliki keterkaitan dengan Iran.
Laporan tersebut dikutip Al Arabiya dari sumber senior di Riyadh dan menjadi sorotan karena potensi sasaran yang disebut bukan hanya objek militer.
Menurut laporan itu, fasilitas sipil dan infrastruktur strategis Saudi berpotensi menjadi sasaran, termasuk bandara, pelabuhan, fasilitas energi, serta sejumlah infrastruktur penting lainnya.
Nama Houthi di Yaman, sejumlah kelompok bersenjata di Irak, hingga Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) turut muncul dalam laporan mengenai dugaan persiapan serangan tersebut.
Namun, hingga kini belum ada konfirmasi independen bahwa serangan tersebut benar-benar akan terjadi atau bahwa seluruh kelompok yang disebut telah mengambil keputusan untuk melancarkannya.
Situasi tersebut menjadi semakin sensitif karena hubungan Saudi dengan Houthi kembali memanas.
Houthi sebelumnya mengumumkan pembatasan pelayaran terhadap kapal-kapal yang dianggap terkait dengan Arab Saudi di Laut Merah. Kelompok tersebut menyatakan kebijakan itu berkaitan dengan tuduhan blokade terhadap wilayah yang mereka kuasai di Yaman.
Houthi juga mengklaim pernah melancarkan serangan terhadap kapal, fasilitas energi, dan bandar udara yang berkaitan dengan Saudi.
Di sisi lain, koalisi yang dipimpin Arab Saudi kembali melakukan serangan udara terbatas terhadap sejumlah sasaran militer Houthi di Yaman.
Kekhawatiran Riyadh tidak berhenti pada Yaman.
Pada 28 Juli 2026, Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM menyatakan pasukan AS dan Arab Saudi melakukan serangan presisi terhadap kelompok-kelompok yang disebut bersekutu dengan Iran di Irak.
CENTCOM menyatakan serangan tersebut menyasar fasilitas logistik dan persenjataan di Irak bagian timur.
Menurut militer AS, operasi tersebut dilakukan setelah lebih dari 30 serangan drone yang disebut dilancarkan oleh IRGC Iran dalam kurun 72 jam sebelumnya.
CENTCOM juga menuduh kelompok-kelompok yang bersekutu dengan Iran di Irak telah melakukan ratusan upaya serangan terhadap warga negara dan fasilitas AS dalam beberapa bulan sebelumnya.
Dalam pernyataannya, CENTCOM memperingatkan IRGC dan kelompok proksinya agar menghentikan serangan untuk mencegah respons militer AS lebih lanjut.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi kemudian menyatakan operasi bersama dengan AS tersebut merupakan respons terhadap serangan dari wilayah Irak yang disebut menyasar fasilitas minyak Saudi.
Riyadh menegaskan bahwa serangan itu dilakukan secara terarah dan mengacu pada hak membela diri sebagaimana tercantum dalam Pasal 51 Piagam PBB.
Namun, Saudi juga berusaha mengirimkan pesan bahwa pihaknya tidak menginginkan konflik yang semakin melebar.
“Kerajaan menegaskan bahwa mereka tidak menginginkan eskalasi, tetapi akan merespons setiap agresi yang dihadapinya,” demikian sikap yang disampaikan Kementerian Pertahanan Saudi.
Di tengah meningkatnya ketegangan, muncul perkembangan yang berbanding terbalik dari Teheran.
Pada akhir Juli, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan Iran siap membantu Arab Saudi menyelesaikan konflik dengan kelompok Houthi.
Pernyataan tersebut menambah kompleksitas situasi. Di satu sisi, laporan intelijen Riyadh menyoroti dugaan ancaman dari kelompok yang disebut memiliki hubungan dengan Iran. Di sisi lain, Teheran menyatakan kesediaannya membantu meredakan konflik.
Kondisi itu membuat setiap pergerakan militer di kawasan menjadi sangat sensitif.
Konflik Yaman sendiri telah berlangsung sejak akhir 2014 ketika Houthi merebut sebagian besar wilayah Yaman utara, termasuk ibu kota Sana’a.
Pada 2015, koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi militer untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Lebih dari satu dekade kemudian, ketegangan tersebut belum sepenuhnya hilang.
Kini, ancaman baru disebut muncul dari berbagai arah—Yaman, Irak, hingga jaringan kelompok yang dituding memiliki hubungan dengan Iran.
Jika laporan intelijen Riyadh tersebut terbukti akurat, ancamannya bukan sekadar persoalan perbatasan.
Bandara, pelabuhan, dan fasilitas energi merupakan infrastruktur vital bagi Arab Saudi. Serangan terhadap sektor-sektor tersebut berpotensi membawa dampak keamanan sekaligus ekonomi yang jauh lebih luas.
Untuk saat ini, laporan mengenai rencana serangan tersebut masih perlu dicermati dan diverifikasi melalui sumber-sumber independen. (Mun)
-
EKBIS06/08/2026 20:00 WIBAirlangga Pastikan Pertalite Tak Naik hingga Akhir 2026
-
DUNIA06/08/2026 21:00 WIBRudal Rusia Tewaskan Belasan Orang di Kyiv
-
NASIONAL07/08/2026 06:00 WIBAmnesty Desak MBG Dihentikan Usai Dugaan Keracunan Massal
-
NUSANTARA06/08/2026 22:00 WIBBocah 11 Tahun di Jambi Tewas Diterkam Buaya Ganas
-
EKBIS07/08/2026 10:30 WIBRupiah Jadi Pecundang di Asia Pagi Ini
-
RAGAM07/08/2026 01:05 WIBSJA Textile Hadirkan Strategic Fabric Partner, Bantu Brand Fashion dari Awal Produksi
-
PAPUA TENGAH07/08/2026 09:00 WIBPBB: Jangan Rampas Suara Rakyat Lewat Ambang Batas Parlemen
-
NASIONAL07/08/2026 11:00 WIBDPR: QRIS Diduga Dimanfaatkan untuk Deposit Judi Online

















