Connect with us

NUSANTARA

Pakar UI Ungkap Potensi Gempa Merusak di Daratan Sumba

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Ancaman gempa bumi dan tsunami di Pulau Sumba kembali menjadi sorotan setelah para ahli mengingatkan bahwa wilayah tersebut berada di kawasan tektonik aktif yang dikelilingi sejumlah sumber gempa besar.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menegaskan Pulau Sumba membutuhkan langkah mitigasi bencana yang lebih serius, terukur, dan berkelanjutan mengingat tingginya aktivitas seismik yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut Daryono, terdapat sedikitnya tiga sumber gempa utama yang mengancam wilayah Sumba, yakni Megathrust Sumba di bagian selatan dengan potensi magnitudo maksimum 8,5, Sesar Waikabubak di lepas pantai barat daya dengan potensi magnitudo 7,4, serta Sesar Bondowatu di daratan Sumba Barat yang berpotensi mencapai magnitudo 6,6.

“Sumba berada di kawasan tektonik aktif dengan banyak sumber gempa. Di selatan terdapat megathrust Sumba dengan potensi magnitudo maksimum 8,5, di lepas pantai barat daya terdapat Sesar Waikabubak dengan Mmax 7,4, dan di daratan Sumba Barat terdapat Sesar Bondowatu dengan Mmax 6,6,” ujarnya.

BACA JUGA  Anak Durhaka! Ibu Kandung Tewas Dihabisi Pakai Kayu di Halaman Rumah

Ancaman tersebut bukan sekadar kajian teoritis. Dalam rentang 2019 hingga 2026, wilayah Kodi, Sumba Barat Daya dan sekitarnya tercatat diguncang sedikitnya 12 gempa signifikan dengan magnitudo antara 5,0 hingga 5,9.

Terbaru, gempa berkekuatan magnitudo 5,9 pada Minggu (4/10/2026) menyebabkan guncangan hingga skala VI MMI dan mengakibatkan kerusakan pada sejumlah rumah warga.

Daryono menjelaskan gempa tersebut diduga kuat berkaitan dengan aktivitas Sesar Waikabubak, yakni sesar aktif dengan mekanisme patahan turun atau normal fault yang telah masuk dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 sebagai sumber gempa aktif baru.

Berdasarkan data terbaru, Sesar Waikabubak memiliki panjang sekitar 232 kilometer dengan kemiringan bidang sesar 60 derajat ke arah selatan dan tingkat pergeseran sekitar 0,5 milimeter per tahun.

BACA JUGA  BMKG Minta Masyarakat Warga Waspada Potensi Gempa Berpotensi Tsunami Tahun 2021

Meski demikian, Daryono mengingatkan masyarakat agar tidak menafsirkan potensi magnitudo maksimum 7,4 sebagai prediksi akan segera terjadi gempa besar.

Menurutnya, parameter tersebut hanya menggambarkan kapasitas maksimum sumber gempa berdasarkan kajian ilmiah.

“Sampai saat ini belum ada satu pun teknologi di dunia yang mampu memastikan kapan gempa akan terjadi,” tegasnya.

Sebagai gempa kerak dangkal, aktivitas Sesar Waikabubak berpotensi menghasilkan guncangan kuat dan merusak di wilayah yang dekat dengan pusat gempa. Tingkat kerusakan sendiri dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kedalaman gempa, jarak terhadap sumber, kondisi tanah hingga kualitas bangunan.

Selain ancaman dari sesar aktif, sejarah juga mencatat Sumba pernah mengalami salah satu bencana terbesar. Pada 19 Agustus 1977, gempa berkekuatan magnitudo 8,3 memicu tsunami mematikan yang menerjang wilayah tersebut.

BACA JUGA  BMKG: Gempa Salatiga Diduga Kuat Dipicu Sesar Merbabu

Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa ancaman tsunami di Sumba masih nyata dan dapat dipicu oleh berbagai sumber gempa bawah laut, bukan hanya jalur megathrust.

Karena itu, Daryono mendorong pemerintah daerah dan masyarakat menjadikan informasi kebencanaan sebagai dasar utama dalam perencanaan pembangunan dan pengurangan risiko bencana.

Langkah yang dinilai mendesak antara lain memperluas pembangunan rumah tahan gempa, memperbarui peta bahaya tsunami, memperjelas jalur evakuasi, memperkuat sistem peringatan dini hingga rutin menggelar simulasi penyelamatan bagi masyarakat.

Menurutnya, fokus utama bukanlah menebak kapan gempa berikutnya akan terjadi, melainkan memastikan seluruh elemen masyarakat siap menghadapi skenario terburuk.

“Gempa tidak dapat dicegah, tetapi risikonya dapat dikurangi secara signifikan. Sumba yang aktif secara tektonik harus menjadi Sumba yang tangguh menghadapi bencana,” pungkasnya. (Firman/Mun)

TRENDING