Connect with us

DUNIA

China Siapkan Radar Rahasia di Sayap Jet Siluman J-20

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – China kembali menunjukkan ambisinya dalam mengembangkan teknologi militer generasi baru. Sejumlah peneliti dari Aviation Industry Corporation of China (AVIC) mengusulkan konsep radar peringatan dini yang dipasang langsung di sayap pesawat tempur maupun drone tempur untuk memperluas jangkauan deteksi selama pertempuran udara.

Konsep futuristis tersebut dikembangkan oleh tim dari AVIC Chengdu Aircraft Design and Research Institute, lembaga yang dikenal sebagai pengembang jet tempur siluman J-20. Teknologi itu dipaparkan dalam sebuah studi yang diterbitkan pada 10 Oktober 2026 di jurnal ilmiah Measurement & Control Technology.

Jika berhasil diwujudkan, radar yang terintegrasi di sayap berpotensi mengubah cara pesawat tempur dan drone melakukan pengawasan udara. Sistem tersebut dirancang agar sejumlah pesawat tanpa awak dapat bekerja secara kolektif sebagai jaringan radar terbang tanpa harus mengandalkan pesawat peringatan dini berukuran besar seperti AWACS.

Dalam kajiannya, para peneliti menjelaskan bahwa radar sayap merupakan konsep baru yang dikembangkan untuk mendukung pertempuran udara terdistribusi atau distributed air combat.

BACA JUGA  China Tak Akan Ekspor Jet Tempur Siluman J-20

Alih-alih menempatkan radar utama di bagian hidung pesawat seperti desain konvensional, China ingin memanfaatkan area sayap sebagai tempat integrasi antena radar, sistem kontrol, dan perangkat elektronik pendukung.

Permukaan pemancar radar dirancang menghadap ke bawah dan mengikuti bentuk aerodinamis sayap pesawat. Dengan pendekatan itu, radar dapat memiliki cakupan pemantauan yang lebih luas tanpa memerlukan kubah radar raksasa yang selama ini menjadi ciri khas pesawat peringatan dini.

Para peneliti mengakui konsep tersebut menghadapi tantangan teknis yang tidak ringan. Meski sayap memiliki area yang luas, ketebalannya relatif terbatas sehingga ruang untuk menempatkan antena dan komponen elektronik menjadi lebih sempit.

Salah satu inovasi yang diusulkan adalah penggunaan manuver terbang untuk mengarahkan radar ke wilayah berbeda. Dengan mengubah sudut kemiringan pesawat lebih dari 45 derajat, antena yang semula menghadap ke bawah dapat diarahkan ke samping sehingga memperluas sektor pengamatan.

BACA JUGA  Usai Mudik ke Kampung Halama, 500 TKA China Kembali 'Ngantor' di Proyek Kereta Cepat

Pendekatan ini memungkinkan drone atau pesawat tempur mengontrol pancaran radar secara dinamis sesuai kebutuhan pertempuran.

Tak hanya itu, tim peneliti juga mengusulkan empat mode operasi utama, yakni deteksi segala arah, deteksi multi-arah, pengawasan wilayah luas, dan pemantauan terfokus terhadap target tertentu.

Dalam skenario peperangan masa depan, sejumlah drone dapat bekerja sama untuk melakukan deteksi target secara kolektif sekaligus mengatasi gangguan elektronik yang berusaha membutakan radar.

Menurut para peneliti, konsep tersebut mendukung filosofi baru militer modern yang dikenal sebagai “platform kecil, kemampuan besar”. Dengan kata lain, pesawat berukuran lebih kecil diharapkan mampu menghadirkan kemampuan pengawasan yang selama ini hanya dimiliki pesawat peringatan dini berukuran besar.

Meskipun demikian, studi tersebut belum memastikan bahwa radar sayap akan dipasang pada jet tempur siluman J-20. Penelitian itu juga tidak menyebut teknologi tersebut telah masuk tahap produksi maupun pengujian operasional.

BACA JUGA  Miliki Kedaulatan Pulau di Laut China Selatan, China Usir Kapal perang AS

Namun konsep tersebut disebut berpotensi dipertimbangkan untuk berbagai platform udara China di masa depan, termasuk J-20 dan proyek pesawat generasi berikutnya yang kerap disebut sebagai J-36 maupun J-50.

Saat ini, rancangan tersebut masih berada pada tahap penelitian dan pengembangan. Para peneliti menilai masih dibutuhkan pengujian lanjutan untuk membuktikan apakah radar yang ditanam di sayap benar-benar mampu menyamai atau bahkan melampaui kemampuan pesawat peringatan dini konvensional.

Jika berhasil diwujudkan, teknologi ini dapat menjadi salah satu lompatan terbesar dalam evolusi peperangan udara modern, sekaligus memperkuat ambisi China membangun armada tempur generasi masa depan yang lebih fleksibel, sulit dideteksi, dan saling terhubung dalam satu jaringan pertempuran. (Mun)

TRENDING