Connect with us

DUNIA

China Sinyal J-36 Dibekali Laser Tempur

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: meta - ai

AKTUALITAS.ID –Tiongkok baru saja memberikan sinyal paling terang terkait masa depan peperangan udara. Melalui pameran kedirgantaraan, Beijing mengisyaratkan pengembangan senjata laser berenergi tinggi kelas 100 kilowatt (kW) untuk pesawat tempur generasi keenam mereka, yang secara tidak resmi dijuluki J-36.

Bocoran ini terungkap lewat materi promosi Aviation Industry Corporation of China (AVIC) pada ajang 14th China International Defence Electronics Exhibition di Beijing pertengahan September 2026. Lembaga di bawah naungan AVIC memamerkan “sistem pelacakan dan pembidikan senjata laser untuk pesawat tempur” dengan spesifikasi yang mencengangkan: bobot kurang dari 380 kilogram dan indikasi daya transmisi pada angka “*00 kW”.

Angka yang disamarkan tersebut merujuk pada daya sedikitnya 100 kW. Menariknya, ilustrasi material pameran itu menampilkan siluet pesawat berbadan besar, tanpa ekor, dengan tiga mesin persis seperti penampakan jet tempur misterius J-36 yang pertama kali mengudara di Chengdu pada akhir 2024.

BACA JUGA  China Tuding AS Ancaman Terbesar Yang Mengerahkan Kekuatan Militer di LCS

Ukurannya yang bongsor membuat J-36 secara teori memiliki ruang internal yang cukup lapang untuk menampung generator listrik, sistem pendingin ekstrem, dan perangkat pengarah laser yang mustahil dibawa oleh jet tempur konvensional.

Namun, senjata laser udara ini bukan dirancang untuk menembak jatuh pesawat musuh layaknya film fiksi ilmiah. Menurut analisis pertahanan Warsight, daya 100 kW terlalu besar jika sekadar difungsikan sebagai pengecoh inframerah. Kemungkinan terbesarnya: laser ini akan menjadi Sistem Perlindungan Aktif (APS).

Fungsi utamanya adalah membutakan sensor optik, merusak komponen elektronik, atau melelehkan badan rudal udara-ke-udara maupun permukaan-ke-udara yang melesat mendekati pesawat. Dengan kecepatan rudal modern yang mencapai 1.200 hingga 1.400 meter per detik, pertahanan laser memberikan lapisan proteksi tak terbatas bagi pesawat, selama mesin mampu menyuplai listrik dan membuang panas.

BACA JUGA  Terdampak Wabah Corona, China Yakin Hubungan Ekonomi dengan Indonesia Kuat

Meski menjanjikan, mengoperasikan laser 100 kW di udara jauh lebih sulit ketimbang di darat atau laut. Sebagai perbandingan, sistem Iron Beam milik Israel (100 kW) atau HELIOS milik Angkatan Laut AS (60 kW) diuntungkan oleh ketersediaan ruang, daya, dan infrastruktur pendingin yang masif.

Mengecilkan raksasa energi tersebut menjadi perangkat di bawah 380 kilogram yang harus beroperasi stabil di atas jet tempur bermanuver tinggi adalah mimpi buruk bagi para insinyur. Sistem harus mendeteksi, mengunci target secepat kilat, dan menahan tembakan energi presisi pada objek yang bergerak ribuan kilometer per jam, hanya dalam hitungan detik.

Sejauh ini, perangkat AVIC membuktikan bahwa China telah melewati batas teori dan sedang merakit perangkat keras nyata. Jika teknologi penguncian target, suplai daya, dan pendinginan ini sukses diuji terbang di masa depan, J-36 tidak hanya akan memutar balikkan taktik penghindaran rudal, tetapi menembak hancur ancaman tersebut murni dengan kecepatan cahaya.(Mun)

BACA JUGA  Sah, Transaksi Perdagangan Indonesia- China Mulai Gunakan Yuan

TRENDING