Connect with us

NASIONAL

Dari Kwitang, SDI Himpun Tokoh Penting Demi Indonesia Emas

Aktualitas.id -

Dari Kwitang, SDI Himpun Tokoh Penting Demi Indonesia Emas

AKTUALITAS.ID – Indonesia Emas 2045 tak akan terwujud hanya dengan slogan dan pidato nasionalisme. Pendidikan yang merata, kesempatan kerja, pengurangan kesenjangan, penegakan hukum, perlindungan HAM, dan kualitas demokrasi tetap menjadi pekerjaan besar yang perlu dijawab dengan kebijakan nyata.

Isu-isu tersebut akan dibahas dalam “Dialog Nasional untuk Negeri” yang digelar Swarna Dwipa Institute (SDI), Sabtu, 31 Oktober 2026, di Museum Sumpah Pemuda, Kwitang, Jakarta. Mengusung tema “Pemikiran, Semangat & Implementasi Menuju Indonesia Emas”, forum ini diharapkan tidak berhenti sebagai pertemuan seremonial.

Direktur SDI Lutfi Nasution mengatakan, pemilihan Museum Sumpah Pemuda memiliki makna historis. Tempat itu mengingatkan publik pada ikrar persatuan yang menjadi bagian penting perjalanan bangsa.

Namun, tantangan generasi sekarang jauh berbeda dari 1928. Persaingan global dan perubahan teknologi bergerak cepat, sementara persoalan pendidikan, lapangan kerja, kesenjangan sosial, dan kualitas demokrasi masih membutuhkan perhatian serius.

BACA JUGA  Bukan Kaleng-kaleng, Ariawan Sabet Gelar Tokoh Muda Jurnalistik Kreatif

“Semangat persatuan tidak boleh berhenti sebagai ritual tahunan,” demikian pokok pesan yang disampaikan SDI dalam keterangan persnya, Kamis (29/10/2026). Semangat tersebut, menurut SDI, perlu diterjemahkan menjadi kesempatan yang lebih setara, perlindungan hak warga, pendidikan berkualitas, serta ruang partisipasi publik yang terbuka.

Sejumlah tokoh lintas sektor dijadwalkan hadir, termasuk Wakil Menteri HAM Mugiyanto Sipin dan budayawan sekaligus akademisi senior Romo Franz Magnis Suseno. Forum juga akan menghadirkan Anggota DPR RI sekaligus Ketua Umum BM PAN H. Slamet Ariyadi, Warsito Ellwein dari Agenda 45, Ulung Rusman dari Perhimpunan INTI, serta Febby Lintang selaku pengamat SDI.

Keragaman latar belakang pembicara membuka ruang untuk membahas berbagai persoalan kebangsaan, mulai dari pembangunan manusia dan HAM hingga arah kebijakan menuju 2045. Namun, bobot forum tidak cukup diukur dari nama besar para pembicara. Ujiannya adalah sejauh mana diskusi berani mengangkat masalah, menerima kritik, dan merumuskan langkah yang dapat ditindaklanjuti.

BACA JUGA  Herman Deru: Sensus Ekonomi Fondasi Indonesia Emas 2045

Target Indonesia Emas 2045 menuntut lebih dari sekadar tenggat dan slogan. Pendidikan perlu makin mudah diakses, kesempatan kerja harus terbuka bagi generasi muda, dan kebijakan publik perlu menjawab kesenjangan sosial. Penegakan hukum, perlindungan HAM, serta demokrasi yang tanggap terhadap kebutuhan warga juga menjadi bagian penting dari agenda tersebut.

Generasi muda, dalam konteks ini, bukan sekadar penerima hasil pembangunan pada masa depan. Mereka menghadapi langsung persoalan pendidikan, persaingan kerja, perkembangan teknologi, dan perubahan sosial hari ini. Karena itu, keterlibatan mereka semestinya melampaui seremoni dan kampanye: anak muda perlu ruang untuk menyampaikan gagasan, mengawasi kebijakan, serta ikut dalam pengambilan keputusan.

Tantangan lain bagi forum ini adalah memastikan gagasan tidak berhenti sebagai catatan acara. Publik perlu mengetahui persoalan apa yang berhasil diidentifikasi, solusi apa yang ditawarkan, dan siapa yang akan menindaklanjutinya. Rekomendasi kebijakan, agenda kolaborasi, atau peta jalan dengan prioritas dan indikator yang jelas dapat menjadi tolok ukur hasil dialog.

BACA JUGA  Pengamat SDI: Putusan MK Soal Gibran Jadi Catatan Kelam Politik RI

Menjelang satu abad Sumpah Pemuda, Indonesia membutuhkan lebih dari optimisme. Semangat persatuan perlu dibuktikan melalui perubahan yang dirasakan masyarakat luas. Indonesia Emas tidak lahir hanya karena bangsa ini pandai membicarakan masa depan, tetapi karena gagasan mampu diwujudkan menjadi kerja nyata. (Mun)

TRENDING