Berita
Inggris Hadapi Gelombang ke II Virus Corona Dengan Lonjakan 3.000 Kasus Baru
Inggris mencatat lonjakan baru infeksi virus corona sebanyak lebih dari 3.000 kasus pada Rabu (7/10). Pemerintah melaporkan saat ini tengah menghadapi gelombang kedua pandemi Covid-19. Data pemerintah Inggris melaporkan hingga saat ini ada 561.638 kasus dan 42.592 kematian akibat Covid-19. Mengutip CNN, dalam 28 hari terakhir diketahui 77 kematian karena corona dan saat ini ada […]
Inggris mencatat lonjakan baru infeksi virus corona sebanyak lebih dari 3.000 kasus pada Rabu (7/10). Pemerintah melaporkan saat ini tengah menghadapi gelombang kedua pandemi Covid-19.
Data pemerintah Inggris melaporkan hingga saat ini ada 561.638 kasus dan 42.592 kematian akibat Covid-19.
Mengutip CNN, dalam 28 hari terakhir diketahui 77 kematian karena corona dan saat ini ada 3.412 orang yang dirawat di rumah sakit.
Sejak kemunculan gelombang kedua corona, Inggris telah memperketat batasan, termasuk membatasi operasional pengunjung.
Hanya saja, Inggris tidak lagi memberlakukan lockdown nasional yang telah dicabut sejak Juni lalu. Melemahnya aktivitas perekonomian membuat Inggris terjerumus dalam jurang resesi.
“Saat gelombang kedua pandemi melanda Inggris dan pembatasan mulai berlaku, pengunjung toko mulai mengalami penurunan karena banyak pembeli memilih untuk tinggal di rumah,” kata kepala eksekutif Konsorsium Retail Inggris (BRC) Helen Dickinson.
Selain Inggris, negara-negara Eropa saat ini mewaspadai kemunculan gelombang kedua pandemi.
Seperti halnya Inggris, Jerman juga mengalami lonjakan kasus corona yakni bertambah 4.000 kasus baru dalam 24 jam terakhir pada Kamis (8/10). Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn mengatakan lonjakan haritan itu sebagai angka tertinggi sejak April.
Dia mengingatkan warga Jerman untuk tetap berpegang pada aturan memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Dia juga mendesak warga untuk menambahkan aplikasi virus corona ke rutinitas harian mereka.
“Jumlahnya menunjukkan lompatan yang mengkhawatirkan. Hampir tidak ada negara lain di Eropa yang berhasil mengatasi krisis sejauh ini. Tapi kita tidak boleh mempertaruhkan apa yang telah kita capai,” kata Spahn seperti dikutip dari AFP.
-
EKBIS25/05/2026 09:30 WIBIHSG Dibuka Sempat Menguat Lalu Berbalik Melemah
-
NASIONAL25/05/2026 15:31 WIBNamanya Kerap Disebut di Kasus Korupsi, Jokowi Belum Pernah Diperiksa Penegak Hukum
-
EKBIS25/05/2026 10:30 WIBRupiah Jadi Satu-Satunya Mata Uang Asia yang Melemah
-
OPINI25/05/2026 17:29 WIBSengkon dan Karta Jadi Pengingat Bagi Para Penegak Hukum
-
NUSANTARA25/05/2026 14:30 WIBBromo Lockdown Wisata 4 Hari untuk Ritual Yadnya Kasada
-
PAPUA TENGAH25/05/2026 17:00 WIBRawan Pemerkosaan, Polisi Larang Warga Masuk Kawasan Kali Wania Mimika
-
JABODETABEK25/05/2026 07:30 WIBCatat! 5 Lokasi SIM Keliling Jakarta Senin Ini
-
EKBIS25/05/2026 11:30 WIBHarga Emas Antam Hari Ini Melesat Saat Pasar Global Bergejolak