Berita
Menjaga Aturan Hukum, Junta Berlakukan Darurat Militer di 2 Kota Myanmar
Junta militer Myanmar memberlakukan darurat militer di dua kota padat penduduk Yangon dan Shwepyitha, Minggu (14/3) malam. Media yang dikelola pemerintah hari Minggu malam mengumumkan bahwa kota besar Hlaing Tharyar Yangon dan kota tetangga Shwepyitha akan ditempatkan di bawah darurat militer. Kota-kota ini dikenal sebagai pusat pabrik dan rumah bagi pekerja pabrik garmen. Junta “memberikan […]
Junta militer Myanmar memberlakukan darurat militer di dua kota padat penduduk Yangon dan Shwepyitha, Minggu (14/3) malam.
Media yang dikelola pemerintah hari Minggu malam mengumumkan bahwa kota besar Hlaing Tharyar Yangon dan kota tetangga Shwepyitha akan ditempatkan di bawah darurat militer. Kota-kota ini dikenal sebagai pusat pabrik dan rumah bagi pekerja pabrik garmen.
Junta “memberikan kekuasaan administratif dan peradilan darurat militer kepada komandan regional Yangon…untuk melakukan keamanan, menjaga aturan hukum dan ketenangan dengan lebih efektif,” kata seorang penyiar di TV yang dikelola pemerintah.
Pemberlakuan darurat militer dilakukan setelah sedikitnya 18 pengunjuk rasa tewas dalam salah satu hari paling mematikan sejak kudeta 1 Februari.
Total, terdapat lebih dari 80 orang tewas akibat protes massal sejak militer menggulingkan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi dari kekuasaan. Namun, jumlah korban diperkirakan akan meningkat drastis setelah kekerasan hari ini.
Junta berulang kali membenarkan perebutan kekuasaan yang mereka lakukan dengan menuduh terjadi kecurangan pemilu dalam pemilihan November. Saat itu, Pemilu dimenangkan secara telak oleh partai Liga Nasional untuk Demokrasi Suu Kyi.
Tentara dan polisi dalam beberapa pekan terakhir melakukan tindakan keras hampir setiap hari terhadap para demonstran yang menyerukan kembali ke demokrasi. Mereka mengerahkan gas air mata dan menembakkan peluru karet dan peluru tajam untuk memadamkan protes anti-kudeta.
Di kotapraja Hlaing Tharyar, polisi dan tentara bentrok dengan pengunjuk rasa yang memegang tongkat dan pisau yang bersembunyi di balik barikade darurat.
Kelompok pemantau Asosiasi Bantuan untuk Narapidana Politik – yang memverifikasi penangkapan dan kematian sejak kudeta – mengonfirmasi jumlah kematian yang lebih tinggi.
Warga yang bersembunyi di rumah mendengar suara tembakan terus menerus sepanjang hari, sementara truk militer terlihat mengemudi melalui jalan berasap.
-
RAGAM13/05/2026 13:30 WIBHantavirus Bisa Bikin Gagal Napas Akut
-
JABODETABEK13/05/2026 05:30 WIBBMKG Prediksi Jakarta Diguyur Hujan Rabu Ini
-
NUSANTARA13/05/2026 00:01 WIBSejumlah Senjata dan Puluhan Butir Amunisi Berhasil Diamankan Tim Patroli Pengintaian Koops TNI Habema
-
EKBIS12/05/2026 23:30 WIBPertamina: MT Balongan Jadi Kunci Penguatan Distribusi Energi
-
NASIONAL13/05/2026 06:00 WIBKetua DPR RI Puan Perintahkan Investigasi Pembubaran Nobar Pesta Babi
-
POLITIK13/05/2026 13:00 WIBRevisi UU Pemilu Diperingatkan Jangan Jadi Alat Konsolidasi Kekuasaan
-
JABODETABEK13/05/2026 07:30 WIBPolda Metro Buka SIM Keliling di 5 Titik Jakarta
-
NASIONAL13/05/2026 15:45 WIBKPU RI Gandeng KPP DEM untuk Tingkatkan Literasi Kepemiluan dan Demokrasi

















